Apa Itu Narsis?

Narsisisme adalah fenomena yang kekinian dan akrab dengan diri kita. Banyak orang di sekitar kita menunjukkan gejala-gejala narsisisme, atau bahkan jangan-jangan kita pun termasuk di dalamnya.

Orang narsis merasa dirinya adalah pusat yang harus dilayani oleh semua orang. Orang narsis memandang orang lain hanya sebagai alat untuk melayani dirinya.

Adapun ciri-ciri narsisisme antara lain:

  1. Orang yang narsis menganggap dirinya paling penting.
  2. Orang yang narsis membutuhkan perhatian yang berlebihan dari orang lain.
  3. Orang yang narsis gila pujian, gila hormat, gila tepuk tangan.
  4. Orang yang narsis tidak bisa berempati kepada orang lain.

Narsisisme berbeda dengan mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri adalah hal yang baik karena itu adalah fondasi untuk mencintai orang lain. Sayangnya, ada sebagian orang yang mengalami pertumbuhan psikologis yang terhambat. Mereka selesai pada tahap mencintai diri sendiri, dan tidak berkembang untuk mencintai orang lain.

Self-love adalah ciri pada anak-anak, semakin dewasa cinta tersebut berkembang menjadi mencintai orang lain. Orang yang narsis pasti tidak akan bahagia karena jiwanya rapuh, di dalam diri mereka tidak tumbuh self-esteem. Orang yang narsis juga akan cepat marah ketika menemukan sesuatu yang di luar keinginannya.

Saat kita dilayani, kita merasa senang. Tapi saat kita melayani, kita merasa bahagia. Kita tidak mungkin tidak pernah dilayani, tetapi orang yang bahagia lebih banyak melayani daripada dilayani.

Ada banyak dugaan hal yang menyebabkan narsisisme, yang utama adalah kesalahan dalam pengasuhan anak. Pemujaan yang berlebihan (excessive adoration) terhadap anak dapat membuat mereka tumbuh menjadi orang yang narsis di kemudian hari.

Sebaliknya, kritikan yang berlebihan (excessive criticism) pada saat kanak-kanak juga bisa melahirkan narsisisme karena seseorang merasa perlu mencintai dirinya agar bisa survive.

Kesalahan dalam pengasuhan ini membuat pertumbuhan seorang anak menjadi terhenti pada mencintai dirinya sendiri.

Tingkatan narsisisme tertinggi adalah ketidakpedulian pada orang lain.

Keberadaan media sosial juga membantu menyuburkan narsisisme. Orang yang meng-upload foto di media sosial kemudian merasa tidak bahagia ketika fotonya tidak mendapatkan like dari orang lain adalah ciri orang yang narsis. Orang yang narsis sulit untuk bahagia karena meletakkan kebahagiaannya pada respons orang lain.

Narsisisme membuat hubungan kita dengan orang lain menjadi buruk. Oleh karena itu, narsisisme perlu diobati. Jika menemukan orang yang narsis, kita harus mengajarkan empati kepada mereka. []

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Apa Itu Narsis?” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *