Bagaimana Menumbuhkan Belas Kasih?

Akhir-akhir ini kita menyaksikan bagaimana kasih di antara sesama manusia begitu tipis, yang membuat kita seolah tidak lagi menjadi makhluk yang beradab. Ketika ada orang lain yang tertimpa musibah, alih-alih berempati, sebagian dari kita justru mensyukuri hal tersebut.

Apa yang salah dengan diri kita? Mengapa rasa kemanusiaan kita begitu tipis? Bagaimanakah cara menumbuhkan belas kasih agar kita kembali menjadi manusia yang beradab?

Ketika lahir, setiap manusia membawa DNA kasih dari Tuhan. Bahkan, secara simbolik setiap manusia dititipkan ke dalam ‘rahim’ ibu yang bermakna kasih. Setiap manusia terlahir membawa potensi kasih yang luar biasa dahsyat sebagai anugerah dari Tuhan Sang Maha Pengasih dan Penyayang.

Kasih adalah fitrah setiap manusia. Kita tidak membawa kebencian dalam DNA diri kita. Namun, seiring perjalanan waktu, manusia mempelajari kebencian dan menerapkannya kepada orang-orang yang tak sejalan dengannya. Ketika hal ini dibiarkan terus-menerus menguasai hidupnya, maka lenyaplah kasih dari dalam dirinya.

Ketika kita memblokir kasih dari dalam diri kita, maka yang menguasai diri kita adalah otak reptil yang berhubungan dengan empat perkara, yakni: makan, reproduksi, bertarung, dan lari. Keempat hal ini berkaitan dengan survival, kemampuan dasar setiap makhluk hidup, termasuk hewan, untuk menyelematkan dirinya dari kepunahan.

Namun, otak manusia bukan hanya otak reptil. Tuhan telah menganugerahi manusia dengan neocortex yang menjadi tempat bertumbuhnya kasih sayang. Bahkan, neocortex berkembang lebih jauh untuk menemukan makna dari setiap hal yang kita lakukan.

Sayangnya, perkembangan neocortex ini terhambat oleh dua hal, yakni kemarahan dan kebencian. Dua hal ini telah memutus akses kita kepada sumber cahaya, yakni Tuhan. Akibatnya, kita hidup di dalam kegelapan.

Padahal, inti dari kasih adalah keterhubungan (connectedness), yang digambarkan seperti satu tubuh. Ketika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan sakit. Inilah inti dari kasih. Ketika kita melihat orang lain tertimpa musibah, maka kita pun ikut merasakan kesusahan dan kesedihan.

Untuk menumbuhkan belas kasih di dalam diri kita, kita harus senantiasa menjaga keterhubungan kita dengan Tuhan, sumber dari segala kasih. Ketika kita terputus dari Tuhan, maka kita pun akan terputus dengan sesama manusia. Saat itulah belas kasih di dalam diri kita akan lenyap.

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Bagaimana Menumbuhkan Belas Kasih” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *