Deciding Happiness

“Happiness is a decission. You are as happy as you decide to be.” —Anon

Akan ada banyak hal yang akan kita lakukan di tahun 2016 ini. Namun, satu keputusan utama dan terpenting yang harus kita ambil adalah: deciding happiness!

Kebahagiaan (happiness) itu berbeda dengan kesuksesan (success). Kebahagiaan itu adalah keputusan, sedangkan kesuksesan itu adalah perjuangan. Untuk merengkuh kesuksesan, Anda butuh waktu. Tapi untuk meraih kesuksesan, itu bisa Anda lakukan saat ini juga.

Sukses adalah masalah bisa atau tidak bisa, sedangkan bahagia adalah masalah mau atau tidak mau. Karena bahagia itu ada dalam diri kita, seharusnya setiap orang bisa bahagia.

Saya menganalogikan ada dua ekor anjing yang selalu bertengkar di dalam diri kita. Anjing pertama berwarna putih yang melambangkan kebahagiaan. Anjing kedua berwarna hitam yang melambangkan ketidakbahagiaan.

Setiap detik anjing ini terus bertengkar. Pertanyaannya, anjing manakah yang akan menang? Tentu setiap orang menginginkan anjing putih yang keluar sebagai pemenang. Namun dalam kenyataannya, anjing hitamlah yang acap keluar sebagai pemenang.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena kita salah dalam mengambil keputusan untuk memberi makan anjing yang mana. Anjing yang akan keluar sebagai pemenang adalah anjing yang paling banyak kita beri makan.

Jika kita lebih banyak memberi makan kepada anjing putih, tentu dialah yang akan menang. Begitu pula sebaliknya. Kita sendirilah yang memutuskan anjing mana yang kita beri makan.

Keputusan itu kita ambil sekarang, sebelum (before) sebuah peristiwa terjadi, bukan saat peristiwa tengah (during) terjadi, atau malah sesudahnya (after). Kesalahan kita adalah sering membuat keputusan di saat sebuah peristiwa tengah terjadi atau bahkan sesudahnya.

Padahal, jika keputusan (untuk bahagia) itu diambil saat sebuah peristiwa (yang tidak mengenakkan) terjadi, godaan untuk tergenlicir itu sangat besar. Inilah definisi khilaf, yakni mengambil keputusan (yang salah) di saat sesuatu tengah terjadi.

Deciding happiness harus kita ambil sebelum terjadi apa-apa.

Hambatan terbesar dalam kebahagiaan itu sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri, yakni kurangnya rasa syukur. Saat kita memiliki 100 rahmat dari Tuhan, dan 1 cobaan, seluruh perhatian kita tercurah untuk 1 cobaan tersebut.

Padahal, jika kita tetap berfokus pada 100 rahmat, maka apalah artinya 1 cobaan? Lagi pula cobaan itu bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Bahagia itu sesungguhnya sederhana, namun kitalah yang membuatnya rumit dengan memberikan banyak syarat untuk bahagia. Padahal, orang yang bahagia karena sesuatu sesungguhnya tidak bahagia sebab dia menggantungkan kebahagiaannya pada sesuatu.

Bahagia adalah energi cinta yang dilambangkan dengan cahaya. Hanya dengan bahagialah kita bisa mengatasi masalah. Persoalannya, saat kita ditimpa masalah, biasanya tingkat kebahagiaan kita merosot. Jika demikian, bagaimana mungkin kita bisa mengatasi masalah tersebut?

Katakanlah tingkat masalah yang kita hadapi adalah 10, dan kebahagiaan kita 5. Tentu kebahagiaan kita tidak bisa mengalahkan masalah tersebut. Seharusnya, saat menghadapi 10 masalah, kita harus meningkatkan kebahagiaan kita di atas 10 untuk mengalahkan masalah tersebut.

Masalah sendiri sesungguhnya merupakan warna dalam hidup kita. Semakin banyak masalah yang kita hadapi, semakin berwarna hidup kita. Banyaknya masalah yang kita hadapi menunjukkan bahwa hidup kita penuh warna dan sedang tumbuh (growing).

Bayangkan hidup kita tanpa masalah, betapa monotonnya hidup ini. Jadi, jadikanlah masalah sebagai indikator untuk semakin meningkatkan kebahagiaan kita.

Karena kebahagiaan itu adalah keputusan, maka putuskanlah sekarang bahwa Anda akan bahagia hari ini dan seterusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *