Hidup Susah, Siapa Salah?

Secara sederhana, hidup susah itu adalah ketika kemarin bisa, sekarang tidak. Masalah tercipta karena kemarin bisa, tapi dengan cara yang sama, hari ini tidak bisa. Hidup yang susah terjadi karena kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, atau terdapat kesenjangan antara apa yang kita inginkan dengan apa yang kita dapatkan.

Ada tren di masyarakat untuk mencari-cari kesalahan ketika mengalami kesusahan hidup. Seolah-olah kesusahan hidupnya disebabkan oleh faktor lain di luar dirinya, apakah itu situasi ataupun orang lain. Oleh karena itu, mereka beranggapan bahwa faktor-faktor di luar itulah yang harus berubah agar kesusahan hidupnya berakhir.

Kenapa kita mengatakan, “Hidup susah, siapa salah?” karena kita menganggap diri kita benar dan orang lain yang salah. Padahal ketika hidup kita susah, kitalah yang salah (sakit) dan harus berubah (berobat).

Orang yang hidup susah seperti orang yang sedang sakit. Ketika dia bertanya siapa salah, dia seperti menyuruh orang lain yang berobat. Menyalahkan orang lain itu paling mudah. Padahal, masalah itu sesungguhnya ada di dalam diri kita, tetapi kita justru dengan sangat cepat dan mudah menyalahkan orang lain.

Bisa saja ada faktor dari luar yang membuat hidup kita susah, tetapi ketika kita menyalahkan faktor-faktor eksternal tersebut, energi kita habis di luar, dan tidak sempat lagi untuk mengobati diri kita yang sakit.

Orang-orang yang selalu mencari kesalahan di luar dirinya sesungguhnya adalah orang yang tidak bersyukur. Orang yang bersyukur selalu berfokus ke dalam; orang yang tidak bersyukur berfokus ke luar. Orang yang mengatakan hidup ini susah adalah orang yang tidak bersyukur

Ada persepsi yang lebih baik daripada hidup yang susah, tetapi hidup yang berubah. Ketika hidup sedang susah, semestinya kita mencari solusi. Solusi tersebut adalah dengan berubah. Bukan kita mengharapkan faktor di luar diri kita yang berubah, tetapi diri kitalah yang seharusnya berubah.

Hidup ini tidak susah, tapi sedang berubah. Krisis hanya terjadi ketika kita tidak mau berubah. Anda baru bisa bahagia jika Anda mau berubah mengikuti perubahan di luar.

Untuk berubah kita harus mengganti keahlian, mengganti mindset. Orang besar itu adalah orang yang punya banyak keinginan, dan keinginannya tersebut mendorong dirinya untuk berubah.

Dunia ini sedang berubah dengan begitu cepat, disrupsi, maka kita pun harus berubah mengikuti perubahan di luar. Jika kita enggan berubah, maka kita akan mengalami krisis.

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Hidup Susah, Siapa Salah?” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *