I Won’t Give Up

‘The perfect marriage is just two imperfect people who refuse to give up on each other’ — Kate Stewart

Konflik adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah perkawinan. Bahkan, konflik sesungguhnya merupakan tanda bahwa sebuah perkawinan itu sehat. Konflik adalah indikasi bahwa ada hubungan yang intensif dalam sebuah perkawinan.

Bayangkan, betapa “tidak sehatnya” perkawinan yang tidak pernah dibumbui konflik. Bisa jadi kedua pasangan hanya bertemu sesekali dan menjadikan rumah mereka laiknya hotel untuk singgah sejenak untuk kemudian pergi lagi.

Ada banyak masalah dalam perkawinan yang bisa memicu konflik. Namun, kita bisa menyederhakan masalah-masalah tersebut menjadi dua:

  1. Masalah pertama adalah komunikasi. Masalah komunikasi adalah sesuatu yang bisa kita selesaikan dalam dua jam. Sebuah konflik dikatakan sehat apabila bisa diselesaikan dalam dua jam, dan menghasilkan mutual understanding. Kecocokan dalam perkawinan adalah never ending process. Kecocokan adalah situasional, dan tidak permanen. Tugas kita adalah membangun kecocokan melalui komunikasi.
  2. Masalah trust atau kepercayaan. Berbeda dengan masalah komunikasi, masalah kepercayaan tidak bisa diselesaikan dalam dua hari, dua minggu, atau dua bulan. Kepercayaan bukanlah sesuatu yang diberikan (given), tetapi sesuatu yang diraih (earned). Contohnya masalah kepercayaan adalah selingkuh. Selingkuh tidak terjadi secara tiba-tiba. Selingkuh tidak akan terjadi jika ada connectedness di antara pasangan.

Sebelum kita menempuh sebuah perjalanan fisik, kita perlu membuat komitmen di awal. Demikian pula dalam perkawinan, kita perlu membuat komitmen pada hari pertama perkawinan bahwa, “I won’t give up on us!” ketika kita menghadapi kedua jenis permasalahan.

Kita juga perlu memurnikan niat ketika akan menikah. Banyak orang yang menikah dengan alasan “getting”, mempertimbangkan apa yang ia akan dapatkan dalam perkawinan. Dan itu merupakan hal yang wajar di tahap awal perkawinan.

Namun, cinta yang sebenarnya adalah “giving”, yakni apa yang bisa kita berikan. Ada dua tipe manusia berkaitan dengan konsep getting dan giving ini. Pertama, orang yang memberi karena mendapatkan. Orang-orang yang berprinsip seperti ini akan membangun hubungan yang transaksional.

Kedua, orang yang mendapatkan karena memberi. Inilah yang harus kita miliki dalam perkawinan karena dalam mindset ini kita akan membangun hubungan yang spiritual. Bukankah hubungan yang terindah dalam sebuah perkawinan adalah hubungan spiritual?

Hal yang paling indah dalam perkawinan adalah growing old together.

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “I Won’t  Give Up” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *