Komitmen dalam Pernikahan

“Cinta yang indah adalah bertumbuh bersama, menua bersama.” —Arvan Pradiansyah

Komitmen dalam pernikahan bukanlah masalah sepele. Ini adalah masalah masa depan bangsa. Masalah generasi yang akan dilahirkan dari pernikahan tersebut.

Di Indonesia, masalah pernikahan ini sangat memprihatinkan. Menurut data dari BKKBN, angka perceraian di Indonesia adalah yang tertinggi di wilayah Asia Pasifik. Dalam satu hari terjadi hampir seribu kasus perceraian, atau rata-rata terjadi 40 kasus perceraian setiap jam.

Perceraian adalah hal yang paling menyakitkan bagi anak. Merekalah yang menjadi korban atas kegagalan kedua orang tua dalam menjaga komitmen pernikahan.

Banyak orang yang salah dalam mengartikan komitmen. Mereka menyangka komitmen sama dengan janji. Padahal, kenyataannya komitmen itu berbeda dengan janji.

Janji diucapkan di awal, dan memberikan harapan. Komitmen baru terlihat dalam perjalanan. Komitmen adalah pembuktian janji dan selalu berupa tindakan.

Komitmen membuat orang merasa tenang karena merasa bahwa masa depan adalah miliknya. Ketenangan dalam pernikahan adalah ketika kedua belah pihak merasa bahwa masa depan adalah milik mereka.

Faktor yang meruntuhkan komitmen adalah persepsi yang keliru tentang pernikahan. Persepsi tersebut menganggap bahwa pernikahan adalah puncak hubungan.

Padahal, kenyataannya pernikahan bukanlah puncak hubungan, melainkan sebaliknya, awal dari sebuah hubungan. Ada sebuah mitos yang disebut marriage box myth, yakni menganggap bahwa pada saat menikah, kita mendapatkan sebuah kota.

Dalam kotak tersebut terdapat semua yang kita butuhkan, seperti cinta, kehangatan, keakraban, pengertian, dan sebagainya. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Memang benar kita mendapatkan kotak saat menikah, tapi kotak tersebut kosong.

Kitalah yang mengisinya dengan cinta, perhatian, kasih sayang, dan sebagainya. Seiring perjalanan waktu, kotak tersebut akan penuh. Selanjutnya kita bias mengambil isi kotak tersebut kapan saja kita membutuhkannya.

Komitmen ada dalam pernikahan ketika kedua belah pihak saling berlomba dalam kebaikan. Ketika sang istri memberi lima, suami tak mau kalah, dia memberi lebih dari lima. Ketika pasangan kita sabar dan setia, maka kita harus lebih sabar dan setia.

Komitmen justru hancur saat kedua belah pihak justru berlomba dalam ketidakbaikan. Kita menjadi baik bukan karena orang lain baik terhadap kita, tapi kita memang baik.

Kecocokan dalam rumah tangga terjadi kalau kita dekat. Namun yang kadang kala terjadi dalam pernikahan adalah hubungan yang tidak masuk akal. Saat pasangan menjauh, kita ikut menjauh, bukan justru mendekat.

Ketidaknyamanan dalam hubungan justru merupakan pertanda baik bahwa kita bisa membuktikan komitmen. Ketidaknyamanan adalah ujian bagi komitmen. Saat merasa nyaman, kita tidak bisa menguji dan membuktikan komitmen kita.

Komitmen selalu terdiri dari dua factor: niat dan fokus. Saat menikah, kita harus memiliki niat yang baik untuk membangun rumah tangga. Dalam perjalanan, kita harus menjaga fokus. Godaan dalam pernikahan terjadi saat kita kehilangan fokus, dan mulai melirik kiri dan kanan.

Stimulus apa pun yang ada di sekitar kita, itu tidak akan menjadi godaan jika kita tetap menjaga fokus.

Ada 3 tips untuk menumbuhkan komitmen dalam pernikahan:

  1. Make your marriage a priority

Jadikan pernikahan sebagai prioritas dalam hubungan Anda. Bahkan, pernikahan itu jauh lebih penting daripada anak-anak. Saat kita mengabaikan pernikahan, maka yang menjadi korbannya adalah anak-anak.

  1. Selesaikan uneg-uneg sekecil apa pun

Dalam komitmen tidak boleh ada uneg-uneg sekecil apa pun. Bicarakan keluhan Anda kepada pasangan. Masalah kecil akan menjadi besar jika didiamkan. Jangan takut untuk berkonflik. Konflik itu baik jika dengan konflik kedua belah pihak bisa lebih saling memahami.

  1. Recall the reason why you fell in love with your spouse

Ingat-ingat terus alasan mengapa Anda jatuh cinta kepada pasangan Anda. Kenangan-kenangan lama jangan dilupakan. Sebaliknya harus terus ditambah dengan pengalaman-pengalaman indah yang baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *