Machiavellianism

Machiavellianism menurut Daniel Goleman, psikolog Amerika, adalah salah satu karakter dari tiga sekawan kelam selain narsisisme dan psikopat. Machiavellianism muncul  akibat kurangnya kebajikan (virtue) dalam diri seseorang.

Menurut para machiavellist, tujuan dapat menghalalkan cara (the end justifies the means). Semua cara sah dan boleh dilakukan untuk mencapai tujuan. Orang-orang machiavellist lebih cepat mencapai kesuksesan karena mereka memiliki lebih banyak cara untuk mencapai kesuksesan.

Tidak ada tujuan yang buruk. Semua tujuan itu baik, minimal baik bagi diri pelakunya sendiri. Tujuan selalu baik, tapi cara yang menentukan kita orang baik atau bukan. Oleh karena itu, dalam hidup ini kita tidak berbicara tentang tujuan (the end), tapi tentang cara (the means).

Apa pun yang kita lakukan di dunia, tujuannya selalu dua: sukses dan bahagia. Orang-orang machiavellist memang bisa mencapai kesuksesan dengan cepat, tapi kesuksesan tersebut tidak menjamin kebahagiaan.

Orang ingin sukses karena dengan kesuksesan tersebut mereka menyangka akan bahagia. Padahal, kesukesan tidak paralel dengan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kegembiraan dalam kedamaian. Orang mungkin bergembira dengan kesuksesan yang mereka raih, tapi mereka belum tentu merasa damai dalam kesuksesan tersebut.

Tuhan menciptakan kita untuk selalu berada dalam kedamaian dengan memberikan rasa bersalah (guilt) dalam diri kita. Yang kedua, Tuhan membekali kita dengan cinta dan belas kasih (love and compassion) agar kita tetap berada dalam jalan kebaikan.

Guilt dan love adalah struktur rohani yang disiapkan Tuhan agar kita tetap berada dalam jalan kebaikan yang akan mengantarkan kita kepada kedamaian.

Semua orang selalu berpikir ekonomis, dengan modal sekecil-kecilnya, mencapai hasil yang sebesar-besarnya. Orang-orang machiavellist mengandalkan logika sederhana ini. Orang menjadi machiavellist karena mereka pernah menggunakan cara yang baik, tapi tidak mencapai tujuannya.

Mereka frustrasi tapi tetap terobsesi sehingga mulai berpikir jika ada sepuluh cara untuk mencapai kesuksesan, mengapa tidak digunakan semuanya? Orang yang frustasi tapi tetap terobsesi akan menjadi machiavellist. Bagi orang-orang machiavellist, tidak ada teman, tapi semuanya mantan, dan mereka selalu mencari-cari teman baru.

Banyak orang yang frustrasi dengan jalan kebaikan karena terus-menerus menemui kegagalan kemudian menjadi lebih “kreatif” dan menempuh jalan lain.

Orang machiavellist telah merusak dua alarm angerah Tuhan dalam dirinya: guilt dan love and compassion, sehingga mereka tidak akan pernah merasakan kedamaian dalam hidupnya. []

 

Disarikan dari talkhsow Smart Happiness “Machiavellianism” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *