Minta Maaf, Mengapa Sulit?

Dalam suasana lebaran, saat bersilaturahmi, kita kerap mengucapkan permohonan maaf lahir dan batin. Seolah-olah meminta maaf atas kesalahan baik yang disengaja ataupun tidak itu sangat mudah.

Padahal, dalam kenyatannya, meminta maaf itu sangat tidak mudah. Meminta maaf yang sesungguhnya harus disertai penyesalan, dan rasa ingin bertanggung jawab terhadap kesalahan yang diperbuat.

Jika ada orang yang mengumbar permintaan maaf, maka perlu dipertanyakan keseriusannya. Benar-benarkan dia meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya? Atau hanya sekadar basa-basi?

Ada banyak dimensi yang berkaitan dengan permintaan maaf, seperti tempat, waktu, dan cara. Kesalahan dalam meminta maaf, justru bisa menimbulkan masalah baru.

Meminta maaf itu tidak pernah mudah karena beberapa hal, antara lain:

  1. Mengatakan bahwa kita salah adalah hal yang bertentangan dengan ego kita sebagai manusia. Bukankah kebanyakan kita tidak mau disalahkan? Ketika kita mengatakan bahwa kita salah, maka kita sesungguhnya telah menempatkan diri kita pada posisi yang lemah, seolah-oleh mengatakan, “Silakan serang saya,” dan itu berat sekali.
  2. Ketika meminta maaf, kita menempatkan diri kita pada posisi uncertain. Kita menyerahkan kontrol terhadap diri kita kepada orang yang kita sakiti. Tidak ada kepastian orang lain akan memaafkan kesalahan kita meskipun kita telah meminta maaf. Ketika seseorang tidak memiliki kepastian dengan apa yang dia lakukan, dia akan merasa berat untuk melakukan sesuatu.

Dalam hubungan antar-manusia, terdapat perhitungan untung-rugi. Seseorang hanya akan bekerka keras, jika kerja kerasnya itu membuahkan kesuksesan. Dalam meminta maaf, perhitungan untung-rugi ini tidak berada dalam kontrol kita.

Sebaliknya, kontrol berada di tangan orang yang disakiti. Itulah mengapa, sesungguhnya disakiti jauh lebih baik daripada menyakiti. Ketika ketika kita disakiti, kontrol berada di tangan kita untuk memaafkan atau pun tidak.

Ketika seseorang menyakiti orang lain, kontrol berada di tangan orang lain. Kerugian terbesar yang dialami orang yang menyakiti orang lain, adalah menyerahkan kendali kepada orang lain.

Ketika kita menyakiti orang lain, maka ada sebuah luka yang kita torehkan. Meminta maaf adalah upaya untuk menyembuhkan luka tersebut. Inilah seharusnya yang menjadi mindset seseorang ketika meminta maaf.

Meminta maaf bukanlah demi kepentingan diri kita pribadi, melainkan untuk menyembuhkan luka yang kita tinggalkan pada orang lain. Saat meminta maaf, berfokuslah pada bagaimana kita menyembuhkan luka tersebut.

Tuhan sudah memberikan sebuah anugerah yang luar biasa kepada kita. Luka sedalam apa pun, sehebat apa pun, bisa disembuhkan dengan sebuah kaliat, “Saya minta maaf.” Maaf diciptakan Tuhan seperti superglue, yang bisa merekatkan kembali apa pun yang kita rusak.

Kesulitan kita dalam meminta maaf justru menunjukkan kesungguhan kita. Meminta maaflah sebelum luka itu membesar dan menjadi semakin sulit untuk disembuhkan. Ketika kita menunda-nunda untuk meminta maaf, maka kita akan masuk ke dalam sebuah penderitaan yang tak berkesudahan.

Ada harga yang harus dibayar kalau kita maaf: menunjukkan kelemahan diri, siap untuk diserang,siap menerima ketidakpastian karena kontrol ada di tangan korban. Tetapi harga itu jauh lebih murah daripada kita terus membela diri dan terus bertahan dengan anggapan bahwa diri kita tidak salah.

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Minta Maaf, Mengapa Sulit?” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *