Orang Religus atau Orang Spiritual?

Banyak orang yang keliru memaknai religiositas dan spiritualitas. Mereka cenderung menyamakan keduanya. Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda. Religiositas berkaitan dengan tata cara, prosedur, aturan, dan ritual yang dijalankan oleh pemeluk agama. Religiositas merupakan sisi terluar dari keberagamaan.

Di sisi lain, spiritualitas menukik ke dalam, berkaitan dengan penghayatan seseorang terhadap kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Spiritualitas merupakan esensi, inti dari setiap agama. Jika diibaratkan sebuah roda, religiositas berada di sisi terluar dari sebuah roda, sementara spiritualitas merupakan inti atau as dari jeruji roda.

Religiositas berbicara mengenai bagaimana menjadi orang yang taat, sementara spiritualitas berbicara mengenai bagaimana menjadi orang yang baik. Perlu kita akui bahwa tidak semua orang yang religius itu spiritual, pun tidak semua orang spiritual itu religius. Tentu saja, orang terbaik adalah mereka yang religius sekaligus spiritual.

Di tengah-tengah masyarakat, kita menyaksikan ada orang-orang yang (berpenampilan) religius namun nyata-nyata berbuat kemunkaran. Sebaliknya, ada pula orang-orang yang tidak (berpenampilan) religius—mereka yang tidak terlalu taat dalam menjalankan ritual—namun berbuat kebajikan. Hal ini terjadi karena paradigma kita yang keliru dalam memandang religiositas dan spiritualitas.

Selama ini kita hanya ditekankan bagaimana menjadi orang yang religius, menjadi orang yang taat menjalankan ritual keagamaan, namun kita abai dalam mendidik diri kita dan orang lain untuk mejadi orang yang spiritual. Akibatnya, kita terjebak dalam simbol-simbol keagamaan yang hakikatnya merupakan sisi terluar dari agama itu sendiri.

Ada 4 tipe manusia dalam kaitannya dengan religiositas dan spiritualitas:

  1. Orang yang religius dan spiritual. Ini adalah tipe manusia terbaik, manusia paripurna atau insan kamil.
  2. Orang yang religius namun tidak spiritual. Ini adalah tipe manusia yang acap kita temui di masyarakat kita. Mereka taat menjalankan ritual keagamaan, namun juga berbuat kemunkaran.
  3. Orang yang tidak religius namun spiritual. Ini adalah tipe manusia yang berbuat baik namun tidak taat dalam menjalankan ritual keagamaan.
  4. Orang yang tidak religius dan tidak spiritual. Ini adalah tipe manusia yang paling buruk.

Dalam kaitannya terhadap Tuhan, terdapat perbedaan tipis antara orang yangreligius dan orang yang spiritual. Orang yang religius percaya bahwa Tuhan itu ADA. Orang yang spiritual percaya bahwa Tuhan itu HADIR.

Perumpamaan kepercayaan ini berkaitan dengan perbuatan bisa dianalogikan seperti orang yang percaya bahwa polisi itu ada dan orang yang percaya bahwa polisi itu hadir (dan selalu mengamati gerak-geriknya). Kita semua percaya bahwa polisi itu ada, namun tidak semua kita sadar untuk tidak melanggar hukum. Kebanyakan kita—terutama pengguna lalu lintas—hanya berkendara sesuai aturan jika ada polisi di jalan raya. Ketika polisi tidak terlihat, pelanggaran menjamur di mana-mana.

Ada 5 perbedaan antara orang religius dan orang spiritual:

  1. Orang religius percaya bahwa Tuhan itu ada. Orang Spiritual percaya bahwa Tuhan itu hadir.
  2. Orang religius menganggap bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain. Orang spiritual menganggap semua manusia itu setara.
  3. Orang religius selalu melihat perbedaan. Orang spiritual selalu melihat kesamaan.
  4. Orang religius mementingkan simbol-simbol ritual. Orang spiritual mementingkan hakikat peribadatan.
  5. Orang religius baik dalam urusan ibadah. Orang spiritual baik dalam segala urusan.

Untuk menjembatani missing link antara religiositas dan spiritualitas, kita seharusnya berangkat dari spiritualitas menuju religiositas, dan bukan sebaliknya. Sebab, apabila berangkat dari religiositas, kita acap terjebak di sana dan menganggap bahwa diri kita sudah sampai pada tujuan hidup kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *