The Origin of Hatred: Dari Mana Datang Benci?

“Not all insecure people are haters, but all haters are insecure people.” —Jack Schafer

Manusia sejatinya adalah makhluk cinta. Ia dilahirkan ke dunia karena cinta Tuhan, serta cinta orang tua mereka. Maka, seyogianya tugas manusia di bumi ini adalah menebarkan cinta.

Begitu tingginya derajat cinta dalam agama, bahkan keimanan seseorang kepada Tuhan disejajarkan dengan cintanya kepada sesama. Semua agama mengajarkan cinta kepada sesama. Dengan demikian, apabila ada orang yang menganjurkan kebencian yang dibungkus dengan kemasan agama, itu jelas salah kaprah.

Benci adalah perasaan tidak suka yang sangat, sehingga mendorong tindakan (action). Benci diawali dengan perasaan iri yang menjelma menjadi dengki. Apabila iri masih berada dalam tataran perasaan, dengki diwujudkan dalam tindakan.

Dalam perspektif Happiness, pembenci sesungguhnya adalah orang yang sedang tidak bahagia. Orang yang bahagia tidak bisa membenci. Pembenci menganggap sumber kebahagiaan dan ketidakbahagiaannya berada di luar dirinya.

Pembenci menganggap sumber kebahagiaan dan ketidakbahagiaannya berada di luar dirinya. Benci selalu bersifat self-punishment seperti bumerang. Penelitian membuktikan bahwa kebencian akan membuat kita menderita. Semakin kita membenci sesuatu di luar kita, semakin kita merasa menderita.

Penelitian neurosains membuktikan bahwa cinta dan benci menggunakan sirkuit saraf yang sama. Ketika cinta dan benci terjadi bersamaan, yang terjadi adalah kecemburuan.

Ada 3 alasan mengapan orang membenci:

  1. Karena ada perasaan takut atau fear.
  2. Karena ada perasaan marah atau anger.
  3. Karena ada persaan terluka atau injury.

Ujung dari ketiga penyebab kebencian ini adalah perasaan insecure. Orang yang merasa insecure adalah mereka yang merasa terancam, tidak aman, dan sebagainya. Setiap pembenci adalah orang yang insecure, tapi tidak semua orang yang insecure menjadi pembenci.

Ada beberapa tahapan dalam membenci:

  1. Pembenci mencari teman. Pembenci jarang berdiri sendiri. Mereka akan merasa powerful jika membentuk kelompok sesama pembenci.
  2. Kelompok pembenci membuat identitas. Kelompok pembenci mengidentifikasi diri mereka dengan simbol, ritual, mitologi, yang mengandung makna merendahkan objek yang mereka benci.
  3. Kelompok pembenci menjelek-jelekkan target mereka. Kebencian adalah pemersatu di antara para pembenci. Dengan merendahkan objek kebencian mereka secara lisan, mereka meningkat citra diri mereka.
  4. Pembenci mengobarkan api kebencian. Seiring berjalannya waku, api kebencian akan mengecil. Untuk tetap mengobarkan api kebencian tersebut, kelompok pembenci menggunakan celaan-celaan kepada objek kebencian mereka.
  5. Kelompok pembenci menyerang target mereka. Serangan terhadap objek kebencian bisa berupa serangan verbal atau bahkan fisik.

Ada 2 alasan orang membenci kita:

  1. Perilaku kita menyebalkan. Jika ini yang terjadi, maka introspeksilah, ubah perilaku diri Anda.
  2. Kita sangat sukses. Jika ini yang terjadi, maka bersyukurlah sebab orang lain yang membenci kita sesungguhnya ingin menjadi seperti kita, namun mereka tidak mampu, sehingga menjelma menjadi perasaan benci.

Benci terjadi ketika tidak ada cinta. Selama cinta itu ada, maka ketakutan, perasaan marah dan terluka tidak akan pernah menjadi benci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *