Puasa & Pengendalian Diri

Kunci pengendalian diri terletak pada kata “tidak”. Ketika kita tidak bisa mengatakan “tidak” pada diri kita sendiri, maka kita tidak memiliki pengendalian diri.

The science of self-control atau the science of willpower adalah workshop yang paling diminati di Amerika. Untungnya, kita bisa melatih self-control pada diri kita tanpa harus jauh-jauh ke Amerika. Cukup dengan melakukan puasa yang benar, maka kita akan mendapatkan pelatihan self-control.

Namun ada perbedaan mendasar antara the science of self-control dengan puasa. Dalam the science of self-control dikatakan bahwa ketika perut kita lapar, maka kemampuan pengendalian diri kita akan menurun sebab pengendalian diri membutuhkan energi yang besar.

Tapi mengapa yang terjadi dengan puasa adalah sebaliknya. Ketika perut kita lapar, maka kita bisa mengendalikan diri?

Puasa adalah sebuah latihan di mana kita diminta untuk membuat kebiasaan baru. Kebiasaan tidur jadi berubah, kebiasaan makan jadi berbeda, dan seterusnya. Ini menjadi sebuah wake up call, bahwa kita sekarang sudah jadi orang yang berbeda.

Tubuh kita yang melemah karena tidak makan dan minum di siang hari, serta berkurangnya waktu tidur di malam hari menyadarkan diri kita bahwa kita berada dalam situasi yang berbeda.

Tujuan puasa adalah menyadarkan kita bahwa kita tidak mengendalikan diri kita. Setiap hari ada banyak hal yang kita lakukan bukan karena pengendalian diri, tapi karena habit (kebiasaan). Habit adalah sesuatu yang tidak kita pikirkan, yang berarti di luar pengendalian diri kita.

Level selanjutnya adalah addiction (kecanduan), yakni sesuatu yang memberikan kenikmatan kepada kita. Orang yang kecaduan (addicted) juga melakukan sesuatu di luar pengendalian dirinya. Ketika kita melakukan sesuatu yang tidak kita pikirkan, itu berarti di luar pengendalian diri.

Level yang paling tinggi adalah dependency (ketergantungan), atau can’t live without. Dalam hidup kita, kita banyak sekali masuk ke dalam tiga kategori ini, apakah itu habit, addiction, atau dependency. Dan puasa menyadarkan diri kita bahwa banyak sekali apa yang kita lakukan di luar pengendalian diri kita.

Dalam diri kita sesungguhnya ada 2 kekuatan yang selalu bergerak ke arah yang berbeda. Yang pertama adalah kekuatan spiritual yang selalu bergerak ke arah kebaikan. Yang kedua adalah kekuatan fisikal yang selalu bergerak ke arah kesenangan.

Kedua kekuatan ini selalu bertarung di dalam diri kita. Ketika kita tidak memiliki self-control, pertarungan ini akan dimenangkan oleh kekuatan fisikal. Kekuatan fisikal bersifat nyata dan bisa melakukan keinginannya sekarang. Sementara kekuatan spiritual bersifat abstrak, dan ada dalam pikiran kita.

Yang mengendalikan hidup kita kebanyakan adalan kekuatan fisikal. Puasa adalah sebuah upaya untuk melemahkan fisik kita supaya kekuatan spiritual kita yang mengambil alih diri kita.

Saat kekuatan spiritual kita semakin mengemuka, maka frekuensi diri kita akan semakin dekat dengan Tuhan.

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Puasa & Pengendalian Diri” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *