QnA: Ego vs. Happiness

Mengapa ego dilawankan dengan happiness? Mengapa tidak disandingkan saja menjadi ego dan happiness?

Ego dan happiness adalah dua hal yang bertolak belakang. Saat ego seseorang naik, maka happiness-nya akan turun. Sebaliknya, jika happiness yang naik, maka ego akan turun. Jadi, ego dan happiness tidak dapat disandingkan.

 

Mengapa bisa seperti itu?

Kunci kebahagiaan adalan memberi (giving), sementara ego selalu meminta (taking). Ketika ego seseorang tinggi, dia akan selalu meminta didengarkan, dimengerti, dan dipahami oleh orang lain. Orang dengan ego yang tinggi tidak mungkin bisa memberikan perhatian, pengertian, terlebih lagi pemahamannya kepada orang lain.

 

Kalau begitu, jika ada orang dengan ego yang tinggi, dia tidak akan bisa dekat degan orang lain?

Tepat sekali. Orang-orang akan menjauh dengan sendirinya dengan orang yang berego tinggi. Kalaupun ada yang mendekat, maka bisa dipastikan orang tersebut memiliki kepentingan terhadap orang berego tinggi tersebut. Ketika kepentingannya telah terpenuhi, maka dia pun akan meninggalkannya. Ungkapan dalam bahasa Inggris, “Leave the ego otherwise everyone will leave you,” memang benar-benar nyata.

 

Tapi, bukankah ego juga penting dimiliki oleh seseorang? Orang yang tidak memiliki ego, tidak akan memiliki harga diri.

Di sinilah letak kesalahannya. Ego berbeda dengan harga diri (self-esteem). Self-esteem sama sekali tidak bergantung atau berkaitan dengan ego. Ego yang tinggi adalah hal yang negatif. Sementara self esteem yang tinggi adalah hal yang positif. Ketika ego seseorang tinggi, maka ia menuntut orang lain untuk mengerti tentang dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa dirinya hidup dalam insecurity. Dia merasa tidak aman dengan dirinya sendiri. Ini menunjukkan bahwa dia memiliki self-esteem yang rendah.

 

Apa ciri-ciri orang yang insecure dalam hidupnya?

Orang yang insecure gampang tersulut amarah. Ketika ada orang yang tidak sepakat dengan dirinya, dia menilainya sebagai serangan ke arah pribadinya. Mereka tidak bisa membedakan antara dirinya dan pendapatnya. Orang-orang dengan ego yang tinggi begitu melekat pada hal-hal lain yang sejatinya terpisah dari dirinya. Sanggahan terhadap pendapat seseorang bukanlah berarti serangan kepada pribadi orang yang berpendapat.

 

Bagaimana cara menekan ego agar tidak menguasai diri kita?

Ego semakin membesar dan menguasai seseorang kalau ia selalu diberi makan. Makanan ego adalah pujian. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan orang yang memuji kita sebab sesungguhnya pujian bukanlah milik kita, melainkan milik Tuhan. Ketika ada orang yang memuji kita, maka kembalikanlah pujian tersebut kepada pemilik sejatinya. Kita hanyalah media kecil yang digunakan Tuhan untuk menyebarkan kebaikan di dunia. Respons orang terhadap kebaikan kita sesungguhnya adalah hak Tuhan. Dengan menyadari posisi kita di hadapan Tuhan, maka ego kita akan terkikis. Tanpa Tuhan, kita bukanlah siapa-siapa.

 

QnA di atas disarikan dari talkshow Smart Happiness “Ego vs. Happiness” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness. Jika Anda memiliki pertanyaan yang belum terjawab, silakan tinggalkan komentar di bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *