QnA: Pemilu: The Happiness Moment

Mengapa sulit sekali memahamkan orang lain tentang pilihan kita dalam pemilu?

Pilihan politik adalah soal rasa, bukan rasio. Ketika Anda berusaha memahamkan orang yang berbeda pilihan dengan Anda, Anda menggunakan menyodorkan data dan fakta. Itu semua bekerja di ranah rasio, tapi tidak menyentuh rasa. Itulah mengapa sulit bagi orang yang berbeda pilihan politik meyakinkan orang lain untuk mengikuti atau bahkan memahami pilihan politiknya.

 

Kasusnya seperti orang yang jatuh cinta ya?

Tepat sekali. Ketika seseorang jatuh cinta, nasihat apa pun yang diberikan kepadanya tidak akan mempan karena orang yang jatuh cinta dikuasai oleh rasa, bukan rasio.

 

Suasana hari orang yang jatuh cinta selalu berbunga-bunga. Bisakah perasaan seperti ini juga diterapkan dalam politik?

Sangat bisa, dan memang seharusnya demikian. Orang yang jatuh cinta selalu melihat sisi positif pasangannya, dan tidak punya waktu untuk melihat apalagi mengumbar keburukan pasangan orang lain. Hal ini juga seharusnya terjadi dalam politik, yang selalu kita bicarakan adalah hal-hal positif dari pilihan kita, dan kita tidak punya waktu untuk mengumbar kejelekan dari pilihan orang lain.

 

Tapi mengapa yang terjadi di lapangan tidak demikian? Banyak orang yang berbeda pilihan saling menjelek-jelekkan pilihan orang lain?

Bayangkan hari ketika menjelang pernikahan, di mana segala rasa berkecamuk menjadi satu. Ada perasaan cemas, khawatir, takut, tegang. Tetapi semua perasaan itu bisa kita kendalikan karena kita tahu bahwa apa yang sedang kita tuju adalah kebahagiaan. Dengan menyadari ini, maka perasaan-perasaan buruk yang berkecamuk dalam pilihan politik apalagi menjelang hari pemilihan seharusnya berada di bawah perasaan bahagia. Bukan sebaliknya, justru perasaan-perasaan tersebut lebih mengemuka ketimbang perasaan bahagia. Lihatlah pemilu seperti pesta perkawinan, walaupun banyak perasaan berkecamuk, kita tetap bahagia.

 

Bagaimana dengan orang yang memilih untuk tidak memilih alias golput?

Pertama, golput itu hak. Kita boleh memilih untuk menjadi golput karena itu hak. Tapi menjadi golput menunjukkan bahwa kita tidak memiliki cinta. Orang yang cinta tidak lagi berpikir hak dan kewajiban. Yang ada di dalam benak orang yang mencintai adalah memberi. Maka, berikanlah apa yang bisa kita berikan kepada bangsa dan negara. Salah satunya adalah memberikan dukungan dalam perhelatan demokrasi lima tahunan, yakni pemilu.

 

Jadi, bisa dikatakan bahwa berpartisipasi dalam pemilu sesungguhnya merupakan ekspresi cinta?

Benar sekali. Pemilu adalah ekspresi diri, tapi harus didasari oleh cinta. Orang yang lagi jatuh cinta selalu membayangkan kelebihan pasangannya. Orang yang jatuh cinta tidak pernah memikirkan kekurangan pasangan orang lain. Semua yang ada dalam pandangan orang yang jatuh cinta adalah hal-hal positif. Pemilu juga merupakan ekspresi kita untuk menentukan nasib bangsa kita ke depan. Inilah hakikat kemerdekaan. Tanpa kemerdekaan, kita tidak bisa mengekspresikan diri kita, dan tidak ada pemilu. Dengan menyadari ini, maka perasaan-perasaan buruk yang berkecamuk menjelang hari pemilihan seharusnya berada di bawah perasaan bahagia. Bukan sebaliknya, justru perasaan-perasaan tersebut lebih mengemuka ketimbang perasaan bahagia. Jika kita memiliki mindset seperti ini, maka pemilu akan menjadi momentum yang membahagiakan bagi kita semua.

 

QnA di atas disarikan dari talkshow Smart Happiness “Pemilu: The Happiness Moment” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness. Jika Anda memiliki pertanyaan yang belum terjawab, silakan tinggalkan komentar di bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *