Relationships That Last

Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak berhubungan dengan orang lain, apakah itu hubungan asmara, hubungan pekerjaan, atau pun hubungan bisnis. Tetapi banyak orang yang belum memahami paradigma hubungan antar-manusia, sehingga mereka tidak menyadari perilaku mereka justru merusak hubungan tersebut.

Ada dua paradigma hubungan antar-manusia:

  1. I-and-You
  2. I-and-Something

Dalam paradigma pertama, I-and-You, seseorang memperlakukan orang yang berhubungan dengannya sebagai manusia. Dalam paradigma ini, yang menjadi fokus adalah “Anda”, bukan “Saya”. Hubungan yang memanusiakan manusia ini dibangun ketika kita sedang tidak membutuhkan orang tersebut.

Dalam paradigma kedua, I-and-Something, seseorang memperlakukan orang yang berhubungan dengannya hanya sebagai alat. Orang lain dipandang hanya sebagai alat utntuk mencapai kepentingannya. Dalam paradigma ini, yang menjadi fokus adalah “Saya”, bukan “Anda”. Hubungan yang seperti ini tidak akan langgeng.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita justru banyak menemukan hubungan yang dibangun atas paradigma kedua ini. Di dalam rumah, misalnya, betapa banyak pasangan yang memperlakukan pasangannya hanya sebagai alat untuk melayani kepentingannya, termasuk anak kepada orangtua dan sebaliknya.

Di kantor, kita melihat banyak atasan yang memperlakukan anak buahnya hanya sebagai alat untuk mencapai target. Dalam hubungan seperti ini, yang ada di dalam benak seseorang adalah, “Saya hanya peduli pada kepentingan saya. Saya tidak peduli dengan perasaan Anda.”

Orang yang disukai adalah orang yang selalu menanyakan tentang diri “Anda”, dan bukan berbicara tentang diri “Saya”. Orang-orang yang berbicara tentang “Saya” sesungguhnya tengah menghancurkan dirinya di hadapan orang lain.

Hubungan dan kepentingan sesungguhnya berada dalam dua kubu ekstrem yang saling bertentangan.

Hubungan yang baik adalah hubungan yang dibangun ketika seseorang tidak memiliki kepentingan kepada orang lain. Dalam hubungan seperti ini, seseorang selalu hadir dalam hubungan yang dibangunnya.

Ciri-ciri orang yang hadir adalah selalu memperhatikan apa yang dikatakan oleh orang yang sedang bersama dengan dirinya. Tidak pernah sepatah kata pun dia lontarkan untuk memotong pembicaraan orang lain.

Selanjutnya, orang yang memiliki paradigma I-and-You selalu menganggap perasaan orang lain itu penting. Oleh karena itu, orang-orang seperti ini tidak pernah mengatakan, “Sudahlah, itu tidak usah dipikirkan,” dan sebagainya.

Untuk membangun hubungan yang langgeng, seseorang harus senantiasa memberikan setoran-setoran kebaikan kepada orang lain. Semakin banyak setoran yang diberikan oleh seseorang, maka kredibilitas dan kepercayaan orang kepadanya akan semakin tinggi. Orang seperti ini pun akan selalu mendapatkan prioritas dalam hubungan apa pun yang dia jalin.

Kita membangun hubungan bukan karena kita membutuhkan orang lain, melainkan karena kita dikirim Tuhan ke dunia untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Hubungan yang langgeng adalah ketika kedua belah pihak memperlakukan partnernya sebagai manusia. []

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Relationships That Last” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional di bidang Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *