The Danger of Comparison

“I generally find that comparison is the fast track to unhappiness.” —Jack Canfield

Keinginan untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain adalah kecenderungan yang dimiliki oleh setiap manusia. Sayangnya, di balik kecenderungan ini terselip bahaya yang mengintai setiap orang, yakni terampasnya kebahagiaan.

Salah satu efek dari membandingkan diri dengan orang lain adalah munculnya rasa minder. Banyak sekali orang yang memiliki kelebihan dari diri kita. Padahal, kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain sebab setiap kita adalah unik.

Jika kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, sesungguhnya kita telah menghina diri kita sendiri, bahkan lebih dari itu, kita pun sesungguhnya telah menghina Tuhan.

Ada beberapa bahaya di balik membandingkan diri dengan orang lain:

  1. Munculnya rasa iri. Orang yang iri tidak mungkin bahagia.
  2. Selalu merasa kurang. Orang yang selalu merasa kekurangan, tidak bisa beryukur.
  3. Timbulnya rasa minder dan sombong. Minder dan sombong adalah perasaan yang timbul dari akar yang sama: membandingkan diri dengan orang lain.

Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain, seharusnya kita melakukan “perjalanan ke dalam”. Jika kita sibuk “melihat ke luar” dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, kita akan lupa “melihat ke dalam”.

Perjalanan ke dalam diri ini adalah serangkaian upaya untuk membuka satu per satu potensi yang tersembunyi yang ada di dalam diri kita. Potensi-potensi tersebut adalah karunia dari Tuhan, dan dengan potensi-potensi tersebutlah diri kita menjadi unik.

Untuk mengukur kesuksesan kita bisa melakukan benchmarking. Benchmarking berbeda dengan membandingkan diri dengan orang lain, sebab benchmarking adalah membandingkan pencapaian kita dengan standar. Bechmarking adalah upaya mencari inspirasi tanpa membandingkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *