The Power of Patience

“Patience is bitter, but its fruit is sweet.” —Aristotle

Sabar sesungguhnya sebuah kebajikan kuno, kebajikan yang paling pertama di dunia, namun tetap sangat dibutuhkan oleh siapa pun sampai hari ini. Kita bisa hidup sampai sekarang juga karena kesabaran orang-orang di sekitar kita.

Di dunia modern sekarang ini, hidup kita mengalami percepatan yang luar biasa. Percepatan ini membuat kita ter-diskonesi, tidak terhubung dengan alam semesta. Padahal, hidup selaras dengan alam semesta adalah kunci kebahagiaan.

Oleh karena itu, kita perlu menurunkan kecepatan ritme hidup kita agar kembali selaras dengan irama alam semesta. Menurunkan kecepatan atau memperlambat bukan berarti lambat. Dalam hidup kita banyak hal yang apabila dilakukan lebih lambat, justru akan tiba di tujuan lebih cepat. Sometimes slower is faster.

Sebaliknya, banyak hal yang apabila kita lakukan lebih cepat justru memperlambat kita sampai di tujuan. Misalnya, kita berbicara terlalu cepat sehingga audiens atau orang yang mendengarkan kita tidak menangkap isi pembicaraan. Akhirya kita harus mengulangi pembicaraan tersebut.

Menurunkan kecepatan atau tempo, itulah sesungguhnya esensi kesabaran. Menurunkan tempo justru lebih berat ketimbang menaikkan tempo. Saat berbicara dengan orang-orang yang temponya berada di bawah kita, maka kita harus menurunkan tempo kita. Itu jauh lebih sulit daripada berbicara dengan orang yang temponya berada di atas kita, dan kita bisa dengan mudah menaikkan tempo kita.

Sabar sering disalahartikan sebagai duduk diam dan menunggu . Padahal, duduk diam dan menunggu sampai ada perubahan di luar bukanlah sabar, melainkan pasrah. Sabar adalah terus melakukan sesuatu sampai berhasil sampai di tujuan, bukan pasrah terhadap keadaan tanpa melakukan apa-apa. Sabar itu milik orang yang kuat, sedangkan pasrah adalah milik orang yang lemah .

Inti dari kesabaran adalah acceptance, merima. Menerima adalah ciri orang yang kuat. Pasrah berbeda dengan berserah. Pasrah itu pasif, semantara berserah adalah aktif. Ketika kita tidak mampu lagi melakukan sesuatu, maka berserahlah kepada Tuhan.

Sabar itu memang ada batasnya, dan batas kesabaran bagi tiap orang itu berbeda. Tugas kita adalah terus-menerus meningkatkan batas kesabaran itu. Sabar bukan hal yang permanen, kita selalu berayun-ayun antara kutub kesabaran (patience) dan ketidaksabaran (impatience ).

Jika dianalogikan, sabar ibarat tanki. Setiap orang memiliki ukuran tanki yang berbeda. Jika kita memiliki tanki kesabaran yang luas, kita tidak akan terganggu dengan hal yang kecil. Salah satu hal yang membuat tanki kesabaran kita mengecil adalah saat kondisi fisik kita tidak fit, seperti lapar, lelah, dan sebagainya.

Tugas kita sepanjang masa adalah memperluas tanki kesabaran tersebut. Hal-hal yang membuat kita marah hari ini, harus kita masukkan ke dalam tanki tersebut agar besok hal tersebut tidak lagi membuat kita marah. Itulah pertada bahwa tanki kesabaran kita ikut meluas.

Kita hanya bisa konsisten dalam kesabaran apabila kita memiliki alasan yang kuat untuk itu. Sabar adalah akibat, bukan sebab. Oleh karena itu, kita harus mengetahui alasan yang berharga bagi kita untuk menumbuhkan kesabaran.

Apa pun yang ada dalam pikiran kita, bisa kita wujudkan. Kita hanya perlu bersabar untuk mewujudkannya. Orang yang tidak sabar dikuasai waktu; orang yang sabar menguasai waktu.

Sabar adalah menikmati proses, bukan hasil. []

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “The Power of Patience” di Radio SmartFM, 2 Juni 2017
bersama Arvan Pradiansyah
Motivator Nasional di bidang Leadership & Happiness

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *