Victory

Salah satu tanda kemenangan adalah menjadi manusia yang baru, manusia yang berbeda dengan kita yang kemarin. —Arvan Pradiansyah

Kita baru saja menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh dan merayakan lebaran. Banyak orang yang menganggap puasa sebagai ujian, dan lebaran adalah momentum saat kita dinyatakan lulus ujian dan diwisuda. Kita merayakan lebaran sebagai hari kemenangan karena telah lulus ujian.

Padahal, sesungguhnya puasa itu bukanlah ujian, melainkan latihan. Sebelas bulan berikutnyalah yang menjadi momentum kita untuk menghadapi ujian-ujian setelah menyelesaikan latihan sebulan penuh. Itu artinya, kita akan banyak berjumpa dengan momentum-momentum kemenangan dalam sebelas bulan setelah puasa.

Sayangnya, berbeda dengan puasa, kita kadang lalai menjaga diri di sebelas bulan berikutnya ini. Kita tidak waspada, siapa lawan yang kita hadapi di sebelas bulan ini. Tingkat kewaspadaan dan kesadaran kita jauh berbeda jika dibandingkan saat berpuasa dulu.

Ketidaksadaran kita inilah yang sering mengecoh kita dalam menjalani sebelas bulan pasca-puasa sehingga kita lengah dan gagal meraih kemenangan-kemenangan kecil yang kita hadapi dalamkehidupan sehari-hari. Kita acap gagal menahan amarah, gagal mengendalikan hawa nafsu, gagal untuk tidak bersikap reaktif, dan kegagalan-kegagalan lainnya.

Itulah mengapa, kemenangan yang kita rayakan pada saat lebaran sesungguhnya tidak permanen. Bahkan, kita bisa langsung kalah saat kita merayakan kemenangan tersebut. Hanya ada satu syarat untuk tetap menang dalam kehidupan sehari-hari, yakni menjaga kesadaran kita seperti halnya saat berpuasa dulu.

Kita harus tetap sadar bahwa kita terus-menerus menghadapi ujian, dan harus terus-menerus memenangkan setiap ujian tersebut. Cara untuk menjaga kesadaran tersebut adalah tetap mengingat bahwa Tuhan terus-menerus menguji kita. Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik.

Kita harus memiliki mantra sakti untuk menangkan kemenangan di setiap momentum kehidupan. Mantra sakti yang selalu menyambungkan diri kita kepada Tuhan. Hanya dengan itulah kita akan selalu sadar dan bisa meraih kemenangan-kemenangan di setiap momentum kehidupan.

Hakikatnya, kemenangan sejati (true victory) adalah saat kita bisa mengalahkan diri kita sendiri. Kebahagiaan (happiness) adalah saat kita meraih momentum-momentum kemenangan tersebut. Akhirnya, wisuda adalah saat kita meninggalkan dunia ini. Apakah kita akan kembali sebagai orang yang menang, atau orang yang kalah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *