Toxic Employee

Gallup, konsultan manajemen kinerja global berbasis riset di Amerika, pada akhir Agustus 2018 mengeluarkan hasil terbaru survei tentang keterlibatan karyawan di perusahaan-perusahaan di Amerika. Hasilnya cukup menggembirakan, 34% karyawan dinilai sebagai mereka yang benar-benar terlibat dalam pekerjaan mereka (engaged), 53% masuk kategori not engaged, dan 13% lainnya adalah mereka yang actively disengaged.

Meski angka karyawan yang actively disengaged selalu turun dari tahun-tahun sebelumnya, keberadaan mereka dalam perusahaan tetaplah manjadi duri yang mengganggu kinerja sebuah perusahaan. Mereka adalah para toxic employee yang memerosotkan moral karyawan lain dan menjadi beban keuangan perusahaan.

Para toxic employee ini adalah mereka yang menyebarkan racun ketidakbahagiaan kepada rekan-rekan kerja dan berujung pada terhambatnya pertumbuhan perusahaan. Tidak semua karyawan yang bermasalah dan terdemotivasi menjadi toxic. Karyawan yang tidak berprestasi karena tidak mencapai target, tidak berdisiplin adalah karyawan yang bermasalah masuk ke dalam kategori karyawan yang not engaged.

Namun, akan lain halnya jika karyawan bermasalah ini menyebarkan masalah mereka kepada rekan-rekan kerja, dan berusaha mempengaruhi karyawan lain untuk ikut bermasalah. Jika hal ini dilakukan, maka mereka termasuk ke dalam kategori actively disengaged alias toxic employee.

Seseorang bisa menjadi toxic employee karena menganggap dirinya penting, berharga, dan superior. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian, sehingga memicu adanya kesenjangan antara persepsi dan kenyataan. Kesenjangan inilah yang melahirkan toxic employee.

Toxic employee adalah orang yang tidak lengkap dalam memandang dirinya sendiri. Sumber dari ini semua adalah ego yang terlalu tinggi, yang mengakibatkan seseorang menjadi terlalu percaya diri (over confidence), selalu berfokus pada dirinya sendiri (self-centered), memberikan nilai yang berlebihan pada dirinya sendiri (over-rated). Ketiga hal ini kemudian didukung pula oleh energi yang berlebihan.

Ada 3 ciri toxic employee:

  1. Menyukai intrik-intrik. Toxic employee sangat senang dengan office politics. Hal pertama yang dilakukannya ketika masuk ke dalam sebuah organisasi adalah memetakan mana kawan dan mana lawan. Rekan kerja yang dianggapnya kawan akan terus disuapi dengan informasi yang buruk tentang perusahaan untuk melemahkan semangat mereka. Rekan kerja yang dianggapnya lawan akan diserangnya dengan bebagai fitnah.
  2. Merasa selalu benar. Toxic employee sangat rentan terhadap feedback karena dirinya merasa selalu benar. Menurutnya, setiap masalah pasti disebabkan oleh orang lain Maka, sedikit saja feedback yang tertuju pada dirinya akan direspons dengan sangat emosional.
  3. Kritis terhadap hal-hal yang penting, itu memang harus dilakukan. Akan tetapi, toxic employee tidak hanya kritis terhadap hal-hal yang penting, melainkan juga pada hal-hal yang tidak penting. Toxic employee selalu mempertanyakan hal-hal yang tidak penting dengan tujuan agar terlihat vokal dan dinilai sebagai orang yang penting.

Di luar berbagai kekurangannya, seorang toxic employee sesungguhnya memiliki potensi untuk menjadi seorang leader. Hanya saja potensi-potensi tersebut belum terarah secara benar, dan menyasar kepada hal-hal yang kontraproduktif.

 

Disarikan dari talkhsow Smart Happiness “Toxic Employee” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *