Why Do We Compete?

“Competition gives me energy. It keeps me focused” —Conor McGregor

Tuhan menciptakan persaingan, namun manusialah yang menentukan caranya. Persaingan diciptakan Tuhan sebagai mekanisme agar manusia mengeluarkan potensi terbaik mereka untuk dapat bertahan hidup.

Persaingan adalah permainan yang membuat dunia ini berkembang. Dengan adanya persaingan, setiap orang akan berusaha memunculkan yang terbaik dari dalam dirinya. Persaingan memang selalu menghasilkan yang terbaik.

Orang-orang yang terlibat dalam persaingan akan mengeluarkan segenap potensi terbaik mereka, yang mungkin dulunya tersembunyi. Sementara menang dan kalah hanyalah bonus dari persaingan, bukan tujuan utamanya.

Persaingan itu sendiri sudah memberikan yang terbaik bagi pelakunya dan orang-orang di sekitarnya. Persaingan hanya menghasilkan dua hal: the good dan the better.

Cara-cara tidak sehat dalam persaingan terjadi ketika kita mengutamakan bonus (menang-kalah) ketimbang proses dalam bersaing. Ketika seseorang sudah kehabisan potensi dalam dirinya, dan ia terus mengejar kemenangan dalam persaingan, maka dia cenderung menggunakan cara-cara yang tidak sehat.

Agar tidak terjebak ke dalam cara-cara yang tidak sehat, kita harus selalu menempatkan orang-orang yang bersaing dengan kita sebagai lawan, bukan sebagai musuh. Lawan atau sparing partner adalah mereka yang akan membantu kita mengeluarkan potensi terbaik kita. Sementara musuh adalah orang yang harus kita kalahkan.

Lawan tidak berkonotasi negatif. Bukankah kita diciptakan Tuhan berpasang-pasangan dengan lawan jenis kita? Bukankah dalam dialog kita membutuhkan lawan bicara?

 

Kompetisi dan Kooperasi

Kompetisi atau persaingan adalah saparuh dari kebijakan kehidupan. Separuhnya lagi adalah kooperasi atau kerja sama. Kita harus bisa menempatkan secara tepat kapan kita bersaing, dan kapan bekerja sama.

Dalam situasi mandiri, kita harus bersaing dan tidak boleh bekerja sama. Dalam pilkada, tender di perusahaan, atau pertandingan olahraga, semua partisipan harus bersaing untuk memberikan yang terbaik bagi semua.

Sementara dalam situasi interdependensi, ketika satu sama lain saling bergantung, maka kita harus bekerjasama, dan bukan bersaing. Dalam satu tim sales di perusahaan, misalnya, masing-masing anggota tim harus bekerja sama dan bukan bersaing.

Seorang anak harus dibekali dengan kemampuan bersaing terlebih dahulu, barulah kemampuan bekerja sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *