Youth and Happiness

“Youth is happy because it has the capacity to see beauty. Anyone who keeps the ability to see beauty never grows old.” —Franz Kafka

Sebentar lagi kita akan memperingati hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap 28 Oktober. Sayangnya, dibandingkan dengan hari bersejarah lainnya, peringatan hari Sumpah Pemuda paling jarang kita lakukan.

Kita justru lebih sering memperingati Oktober sebagai Bulan Bahasa Indonesia. Padahal di bulan ini, 87 tahun silam, sesungguhnya telah lahir sesuatu yang bernama Indonesia, dan itu bukan hanya bahasa, melainkan juga bangsa dan nusa Indonesia.

Kelahiran besar ini dilakukan oleh para pemuda dalam Kongres Pemuda Indonesia II yang dihadiri oleh perwakilan organisasi pemuda dari seluruh Nusantara. Dalam Kongres Pemuda Indonesia II 28 Oktober 1928 itu pulalah, lagu kebangsaan Indonesia Raya pertama kali dibawakan oleh penggubahnya, W.R. Soepratman.

Momentum Sumpah Pemuda telah mengubah paradigma perjuangan bangsa kita, yang semula bersifat sporadis ke dalam sebuah bingkai besar yang kita sebut sebagai Indonesia.

Lantas, apa kaitannya antara pemuda dan kebahagiaan?

Pemuda sesungguhnya adalah personifikasi dari kebahagiaan. Dengan kata lain, jika kita ingin melihat kebahagiaan dalam wujud manusia, lihatlah para pemuda.

Dalam banyak nubuwah diceritakan bahwa surga hanya dihuni oleh para pemuda. Tidak ada orang tua di surga. Dan, bukankah surga adalah puncak dari segala kebahagiaan?

Di surga pula, manusia pertama dalam kepercayaan agama-agama samawi diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sosok seperti apa yang Anda bayangkan terhadap manusia pertama ini? Apakah seorang bayi, anak-anak, remaja, pemuda, atau orang tua? Jawabannya tentu saja sesosok pemuda yang bernama Adam.

Bisakah kita menangkap pesan ini? Di surga tempat berkumpulnya segala kebahagiaan, Tuhan menciptakan seorang pemuda. Pemuda inilah yang diproyeksikan untuk menjadi wakil Tuhan yang bertugas untuk menyejahterakan bumi.

Berbicara tentang pemuda, yang pertama kali kita kaitkan adalah rentang usia. UU Kepemudaan No. 40 Tahun 2009 mendefinisikan pemuda di rentang usia 16-30 tahun. Sementara PBB mendefinisikan pemuda berada pada rentang usia 15-24 tahun.

Selain persoalan rentang usia, pemuda berkaitan dengan masalah spiritual. Jika ditinjau dari sisi ini, maka paling tidak ada 4 tipe manusia:

  1. Pemuda yang berjiwa muda

Kelompok pertama ini adalah personifikasi dari kebahagiaan. Mereka adalah orang-orang yang optimistis, ambisius, bergairah, menyukai tantangan dan perubahan, tidak mudah menyerah, inovatif dan sebagainya.

  1. Pemuda yang berjiwa tua

Kelompok ini diisi oleh orang-orang muda yang tidak memiliki sifat-sifat seperti pemuda di kelompok pertama. Para pemuda di sini tidak bergairah, menyalahkan orang lain atas situasi yang terjadi, mengharapkan perubahan tanpa berbuat apa-apa dan hanya menunggu. Merekalah orang-orang yang fatalis.

  1. Orang tua yang berjiwa muda

Orang-orang dalam kelompok ini jika ditinjau dari segi usia memang tidak muda lagi. Namun mereka masih memiliki spirit seperti para pemuda di kelompok pertama. Mereka disebut sebagai young at heart. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia karena masih melakukan hal-hal besar di usia yang sudah tak muda lagi.

  1. Orang tua yang berjiwa tua

Bagaimana dengan kelompok keempat ini? Mereka adalah orang-orang tua yang bijak (wise). Mereka memberikan kesempatan bagi para pemuda untuk berkarya. Mereka termasuk orang yang berbahagia karena menikmati masa tua mereka atas karya-karya yang telah mereka lakukan semasa muda dulu.

One comment

  1. Pemuda adalah nafas nusa, bangsa dan negara
    Pemuda adalah nadi nusa, bangsa dan negara
    Pemuda adalah darah nusa, bangsa dan negara
    Pemuda adalah pondasi negara
    Pemuda adalah harapan bangsa, dan negara
    Semangat terus Pemuda !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *