It’s All About Me!

“Selfishness is the greatest curse of the human race.”

Pada dasarnya setiap manusia terlahir dengan sifat selfish atau mementingkan diri sendiri. Sayangnya, banyak di antara kita yang masih membawa sifat ini sampai dewasa. Orang-orang tersebut tidak mengalami pertumbuhan spiritual.

Selfish atau mementingkan diri sendiri adalah akar dari setiap permasalahan yang ada di dunia ini. Orang yang korupsi, selingkuh, bekerja hitung-hitungan di kantor, atau tidak mengakui keluarga sendiri, semuanya bersumber dari sifat ini.

Revolusi terbesar di muka bumi ini adalah ketika kita berpindah dari “it’s all about me” ke “it’s all about you”. Inilah yang dimaksud dengan pertumbuhan spiritual, ketika kita berpindah dari mementingkan diri sendiri ke mementingkan orang lain.

Peperangan terbesardi dunia adalah peperangan antara “it’s all about me” melawan “it’s all about you”, antara selfish melawan selfless, antara egoisme melawan altruisme. Hanya orang yang telah tumbuh secara spirituallah yang akan memenangkan “it’s all about you”.

Orang-orang yang tidak tumbuh secara spiritual atau orang-orang yang selfish sesungguhnya tengah merugikan diri sendiri. Orang yang selfish akan kehilangan kepercayaan dari banyak orang. Dengan demikian, orang yang selfish tidak akan pernah mencapai kesuksesan.

Tidak semua perilaku mementingkan diri sendiri disebut selfish. Ada 3 paradigma berkaitan dengan mementingkan diri sendiri:

  1. Paradigma mementingkan diri sendiri. Ini adalah selfish. Ketika seseorang melakukan sesuatu hanya untuk dirinya sendiri. Tidak ada orang lain di dalam pikirannya.
  2. Paradigma mementingkan diri sendiri untuk kepentingan orang lain. Paradigma kedua ini bukanlah selfish karena ada kepentingan orang lain yang ditujunya.
  3. Paradigma mementingkan orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Sama dengan paradigma pertama, ini juga selfish. Perbedaannya, pada paradigma pertama adalah selfish yang terbuka, paradigma ketiga adalah paradigma terselubung.

Perilaku mementingkan diri sendiri tidak selama selfish. Mementingkan diri sediri barulah menjadi selfish jika kita mengabaikan kepentingan orang lain atau bahkan mengorbankan kepentingan orang lain. Orang hanya bahagia ketika dia mementingkan orang lain karena itulah tujaun penciptaan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *