The Touch Point

Dalam siaran Smart Happiness Jumat lalu (20/03/2015) tentang Flourish, telah dipaparkan lima elemen kebahagiaan yang oleh Martin Seligman dirumuskan sebagai PERMA (Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment atau Achievement). Dalam The Touch Point, kita akan membahas bagaimana menciptakan hubungan (relationship) yang bermakna (meaningful) dengan orang lain.

Pada dasarnya, kehidupan kita merupakan rangkaian persentuhan-persentuhan kita dengan orang lain. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, kita selalu bersentuhan dengan orang lain, di rumah dengan anggota keluarga; di lingkungan perumahan dengan para tetangga; di jalan; di toko; di kantor; dan sebagainya. Persentuhan-persentuhan inilah yang dimaksud dengan the touch point.

Orang-orang yang berbahagia senantiasa memastikan setiap persentuhan dengan orang lain bisa menularkan kebahagiaan mereka, membuat orang lain menjadi lebih bahagia dibandingkan sebelum bersentuhan dengan kita. Perbuatan-perbuatan yang selama ini dianggap “kecil” seperti senyuman, sapaan selamat pagi, ucapan terima kasih, dan sebagainya akan berdampak positif bagi yang menerimanya.

Tentu saja, senyuman, sapaan, dan ungkapan tersebut harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, dengan cara menghadirkan diri kita sepenuhnya (engagement) di hadapan orang yang bersentuhan dengan kita. Senyuman, sapaan, dan ungkapan SOP yang dilakukan dalam kerangka “basa-basi” atau mekanistis tidak akan memberikan dampak yang positif bagi orang lain.

Filsuf kelahiran Austria, Martin Buber, memformulasikan dua paradigma hubungan antarmanusia. Pertama, I-and-something. Pada paradigma ini, saya hanya menganggap orang lain yang bersentuhan dengan saya sebagai sesuatu (something), dan hanya menjadikan orang lain sebagai alat (tool) untuk mencapai tujuan saya.

Dalam paradigma I-and-something, orang lain tidak dianggap penting. Bagaimana perasaan orang lain, apa pikirannya, semuanya tidak penting bagi saya. Yang terpenting adalah apa yang dihasilkan (result) dari hubungan saya dengan orang tersebut. Hubungan seperti ini tidak memanusiakan manusia, dan tidak akan membuahkan kebahagiaan bagi kedua belah pihak.

Tanpa disadari, orang-orang yang menggunakan paradigma I-and-something sebenarnya telah mengabaikan hubungan yang baik antarmanusia. Dengan demikian, pada hakikatnya mereka telah membunuh aset yang mereka miliki untuk mencapai result.

Paradigma kedua adalah I-and-You. Dalam paradigma ini, saya menganggap penting orang yang bersentuhan dengan saya. Bagaimana perasaannya, apa pikirannya, semua penting bagi saya. Oleh karena itu, saya menyediakan diri saya sepenuhnya (body, mind and soul) untuk orang tersebut. Pola interaksi kedua ini menempatkan relationship lebih utama daripada result.

Ada cerita menarik dari acara kencan buta (blind date) yang dilakukan di Inggris. Ada sepuluh kontestan wanita dan sepuluh kontestan pria yang berkencan secara bergiliran. Mereka diberi kesempatan untuk bercakap-cakap selama beberapa menit. Percakapan mereka direkam untuk diteliti.

Ternyata, pasangan yang paling banyak diminati adalah mereka yang dalam percakapan singkat tersebut selalu menanyakan tentang “diri Anda”. Sedangkan pasangan yang paling tidak diminati adalah mereka yang selalu bercerita tentang “diri saya”. Kontestan-kontestan yang bertanya tentang “diri Anda” inilah yang menerapkan paradigma I-and-You dalam interaksi mereka dengan orang lain.

Kesimpulannya, pada paradigma I-and-You yang lebih mengutamakan relationship daripada result telah tercipta kebahagiaan di antara para pelakunya. Kebahagiaan itulah yang menjadi akar yang kukuh bagi pohon relationship yang membuahkan result yang manis bagi semua orang yang bersentuhan dengannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *