Trust

Trust adalah kebaikan yang dilakukan secara konsisten. —Arvan Pradiansyah

Kehilangan harta adalah kehilangan yang kecil; kehilangan kesehatan itu kehilangan yang besar; kehilangan kepercayaan itulah segala-galanya. Ketika kepercayaan (trust) telah lenyap dari seseorang, maka sesungguhnya hidupnya sudah tidak lagi berarti.

Dalam hidup, kita acap mengalami 5K: Pertama kagum, kemudian kaget, lalu kecewa, selanjutnya kapok, dan akhirnya kabur. 5K ini adalah analogi dari hilangnya kepercayaan dari diri seseorang. Itulah hukum alam (natural law), bukan hukum buatan manusia.

Kepercayaan adalah fondasi dari segala hubungan antar-manusia. Saat fondari itu runtuh, maka hancurlah semua bangunan relasi yang berdiri di atasnya. Dalam konteks hukum buatan manusia, seseorang yang telah kehilangan trust mungkin masih bisa melanjutkan kehidupan normalnya. Tapi di dalam hatinya, sesungguhnya hidup (normal) –nya telah berakhir.

Sebagai ilustrasi, seorang yang berselingkuh dan ketahuan oleh pasangannya, mungkin saja masih bisa melanjutkan bahtera rumah tangganya karena berbagai alasan. Tapi hubungan batin antara orang-orang di dalam rumah tangga tersebut telah terkoyak dan hampir mustahil untuk dirajut kembali.

Trust berbeda dengan love (cinta). Cinta itu bersifat unconditional (tak bersyarat). Cinta dapat tumbuh begitu saja, bahkan terkadang irasional. Namun kepercayaan membutuhkan syarat. Kepercayaan harus ditumbuhkan secara bertahap.

Saat ada orang yang tidak mempercayai kita, itu bukanlah akhir dari segalanya. Sebab, kita bisa menumbuhkan kepercayaan tersebut setahap demi setahap. Untuk menumbuhkan kepercayaan tersebut, kita harus melakukan setoran-setoran kebaikan yang dilakukan secara terus-menerus, konsisten.

Jika melakukan hal tersebut, maka kepercayaan akan mulai tumbuh, dari semula tidak mempercayai menjadi mulai percaya, kemudian sedikit percaya, lantas percaya, dan akhirnya benar-benar percaya. Tapi semua itu membutuhkan satu syarat: konsistensi.

Trust juga berbeda dengan interest (kepentingan). Jika trust adalah kebaikan yang dilakukan secara konsisten, di mana pun, kapan pun, dan kepada siapa pun, maka interest adalah kebaikan yang hanya dilakukan di waktu-waktu tertentu, di tempat-tempat tertentu, dan kepada orang-orang tertentu.

Orang yang melakukan kebaikan secara pilih-pilih tidak akan membangun kepercayaan meski kepada orang yang menjadi objek kebaikannya.

Sebagai manusia yang menjadi tempat khilaf dan salah, bisa jadi kita melakukan hal-hal yang mencederai kepercayaan yang ada pada diri kita. Di saat itu kita harus melakukan recovery kepercayaan dengan mengakui kesalahan tersebut, dan menebusnya, baik dengan menjalani hukuman atau melakukan kebaikan-kebaikan yang menutupi kesalahan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *