Why Suicide?

“Hope is a necessity for normal life and the major weapon against the suicide impulse.” —Karl A. Menninger

Menurut data dari WHO, dalam setahuan paling tidak ada 800.000 kasus bunuh diri di dunia. Sepuluh ribu kasus di antaranya berasal dari Indonesia. Itu baru kasus bunuh diri, belum termasuk kasus percobaan bunuh diri. Dalam 1 kasus bunuh diri ada 20 kasus percobaan bunuh diri yang gagal.

Ada banyak faktor yg memicu orang bunuh diri, seperti putus cinta, keluarga yang tidak harmonis, himpitan ekonomi, kehidupan sosial yang buruk, dan lain-lain. Namun, itu semua hanyalah pemicu, bukan penyebab bunuh diri. Ada pun faktor penyebab bunuh diri adalah berpadunya 4 hal dalam diri seseorang. Ke-4 faktor tersebut adalah:

  1. Feeling hopeless. Orang yang merasa hopeless menganggap dirinya terbatas dan tak punya apa-apa. Betul bahwa setiap manusia itu terbatas, tapi setiap manusia memiliki potensi yang dihadiahkan Tuhan kepada dirinya. Untuk mengatasi keterbatasan itu, manusia perlu menyandarkan diri pada Sang Maha Tak Terbatas. Dialah Tuhan. Orang yang hopeless mungkin percaya bahwa Tuhan itu ada, tapi tidak merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Tanpa menyandarkan diri kepada Tuhan, manusia akan merasa hopeless meskipun dia memiliki semua yang diiginkan oleh manusia, seperti kekayaan, kemewahan, ketenaran, dan lain-lain.
  1. Feeling meaningless. Orang yang merasa meaningless atau tak bermakna adalah mereka yang tidak berkontribusi pada dunia. Orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa kita semua adalah utusan Tuhan, orang yang dikirim Tuhan ke dunia dengan mengemban misi tertentu untuk dituntaskan. Dengan menyadari hal ini, kita tidak akan pernah merasa bahwa keberadaan kita di dunia ini tidak bermakna.
  1. Feeling lonely. Orang yang merasa kesepian atau lonely berbeda dengan orang yang sedang sendirian atau alone. Seseorang akan merasa lonely jika dia kekurangan cinta dan perhatian dari orang-orang sekitarnya. Orang yang kekurangan cinta adalah mereka yang enggan berbagi cinta. Orang yang kerap berbagi cinta tidak akan pernah merasa kekurangan cinta dan tidak akan merasakan kesepian sepanjang hidupnya.
  1. Selain ketiga faktor di atas, fearless atau ketiadaan rasa takut adalah faktor pamungkas yang menjadi penentu apakah seseorang yang feeling hopeless, feeling meaningless, dan feeling lonely akan melakukan aksi bunuh diri atau tidak. Ketika ketiga faktor pertama berpadu dengan ketiadaan rasa takut, maka kemungkinan untuk melakukan aksi bunuh diri menjadi besar.

Ketiga faktor pertama—feeling hopeless, feeling meaningless, dan feeling lonely—pada hakikatnya bukanlah fakta, melainkan opini. Fakta yang dihadapi orang bisa saja sama, tetapi opini yang berkembang di kepala mereka tentang sebuah fakta bisa berbeda. Inilah pentingnya kita mengendalikan opini kita terhadap sebuah fakta.

“There are no hopeless situations, only people who think hopelessly.” ~Windred Newman

Tidak ada situasi yang tanpa harapan, hanya pikiran kitalah yang mengesankannya seolah-olah tanpa harapan. []

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Why Suicide?” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional di bidang Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *