Dealing with Disappointment

Sering kali kita mengkategorikan perasaan menjadi dua: perasaan yang bagus dan perasaan yang buruk. Padahal, sesungguhnya semua perasaan itu bagus karena Semua perasaan yang ada pada diri kita merupakan anugerah Tuhan.

Tuhan menganugerahkan perasaan kepada kita agar kita menjadi tahu apa yang terjadi dan apa yang harus kita lakukan, termasuk rasa kecewa. Berbicara tentang rasa kecewa, ada satu kata kunci, yakni ekspektasi.

Rasa kecewa muncul karena ekspektasi yang tidak sesuai dengan realitas. Rasa kecewa berbeda dengan sedih. Rasa kecewa muncul karena seseorang tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Sedangkan sedih adalah ketika seseorang mendapatkan apa yang tidak diinginkannya.

Saat kita merasa kecewa, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah bersyukur. Kita bersyukur karena masih memiliki rasa kecewa, yang artinya kita adalah manusia yang normal. Rasa kecewa yang kita alami menunjukkan bahwa indikator-indikator emosional dalam diri kita masih bekerja.

Apa pun yang ada di dalam diri kita selalu memiliki tanda-tanda, baik tanda itu bersifat fisik maupun emosional. Tanda-tanda tersebut merupakan ayat-ayat Tuhan yang tersebar di sekitar kita yang perlu kita perhatikan.

Tanda-tanda emosional yang sering kita alami, misalnya, marah adalah hal yang bagus buat diri kita. Marah menandakan ada orang yang ingin masuk ke dalam batasan diri kita. Demikian pula dengan kecewa yang menandakan bahwa ada ekspektasi kita yang melampaui kenyataan.

Ada tiga hal yang perlu kita lakukan saat dilanda rasa kecewa. Pertama, syukuri bahwa kita masih memiliki rasa ini. Rasa kecewa merupakan anugerah dari Tuhan yang menjadi tanda bahwa ekspektasi kita melampaui kenyataan, dan kita masih bisa merasakan tanda ini.

Kedua, nikmati rasa kecewa itu. Temukan ekspektasi yang menjadi penyebab rasa kecewa yang kita alami, dan hilangkan sense of entitlement (perasaan berhak) atas ekspektasi tersebut. Dan ketiga, segeralah move on. Hidup masih panjang, dan harus tetap kita jalani.

Kebanyakan orang yang gagal move on karena memiliki sense of entitlement yang tinggi terhadap ekspektasinya. Inilah yang menyebabkan orang susah untuk berlaku ikhlas. Ikhlas yang sesungguhnya, yang berarti melepaskan, bukan menerima kenyataan.

Agar kita memiliki rasa ikhlas yang tinggi, kita perlu memupuk karakter berserah dalam diri kita. Karakter ini yang akan melindungi diri kita dari rasa sakit yang berkepanjangan saat merasa kecewa. Serahkan apa pun yang akan terjadi dalam hidup kita sebagai kehendak Tuhan.

Salah satu bentuk konkret dari karakter berserah adalah bersiap, baik bersiap untuk menang ataupun kalah. Di mana pun kita berada, kita harus punya dua skenario: skenario menang dan skenario kalah. Itu hanya bisa terjadi kalau kita punya sifat berserah yang tinggi.

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Dealing with Disappointment” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *