Home

Setiap manusia memiliki kerinduan untuk pulang ke tempat asalnya. Tempat yang dirindukan itulah yang disebut dengan home. Dalam bahasa Inggris, kita mengenal dua kata yang dalam bahasa Indonesia memiliki padanan yang sama. Kedua kata itu adalah house dan home.

Ada empat perbedaan antara house dan home:

  1. House berbicara tentang kesuksesan. Home berbicara tentang kebahagiaan.
  2. House bisa dibeli dengan uang. Home tidak bisa dibeli dengan uang.
  3. House adalah sesuatu yang selalu dicari. Home adalah sesuatu yang selalu dirindukan.
  4. House dibuat dari material bangunan: batu bata, kayu, semen, pasir, dan lain-lain. Home dibangun dari cinta.

Ketika seseorang berbicara tentang kesuksesannya, dia akan bercerita tentang house yang dibelinya dengan uang. Tetapi ketika seseorang berbicara tentang kebahagiaan, dia akan bercerita tentang home yang dirindukannya.

Home tidak bisa dibeli dengan uang, tetapi didirikan di atas bangunan cinta dari para penghuninya. House bisa sangat mahal, tapi home tidak memiliki harga karena cinta tidak bisa diukur dengan uang.

Ada tiga ciri bahwa seseorang memiliki home:

  1. Ada sebuah emotional connection. Ada keterikatan emosional dengan tempat itu. Apakah itu rumah kita yang dulu, rumah yang sekarang, atau bahkan bukan keduanya? Di sana ada memori yang dikenang.
  2. Kita punya sense of comfort dan sense of secure. Di dalam home kita merasa aman dan nyaman. Kita bebas mengekspresikan diri kita apa adanya. Dalam home kita tidak perlu pencitraan yang menguras energi.
  3. We feel in control. Kita merasa memiliki kendali di rumah. Kita bisa melakukan apa yang kita mau, bisa mengambil keputusan tanpa beban.

Ketiga perasaan itu akan membuat kita memiliki sense of well being (perasaan sejahtara) dan sense of expression (kemampuan kita untuk mengekspresikan diri kita apa adanya). Di dalam home kita bisa menjadi diri kita apa adanya, tidak ada gengsi lagi.

Jika masih ada gengsi, berarti kita belum menganggap tempat kita sebagai home. Di dalam home kita merasa diterima. Tidak ada pencitraan. Kita benar-benar polos tanpa topeng. Bukankah memakai topeng itu melelahkan?

Orang memakai topeng ketika berada di atas panggung. Kalau rumah masih menjadi panggung bagi kita, itu bukan home bagi kita.

House + Love = Home

 

House – Love = Hell

 

Sejauh kita memiliki cinta, di mana pun kita berada, kita merasa seperti di rumah.

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Home” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *