Home

“God is always at home, it is we who have gone out for a walk.” —Meister Eckhart

Dalam kosa kata bahasa Indonesia, kita menerjemahkan kata ‘house’ dan ‘home’ hanya sebagai rumah. Tidak ada perbedaan di antara keduanya. Namun, sesungguhnya house dan home memiliki makna yang berbeda.

Setidaknya ada 5 perbedaan antara house dan home sebagai berikut:

  1. House adalah lambang kesuksesan, sementara home adalah lambang kebahagiaan.
  2. House dibangun oleh orang lain, sementara home dibangun oleh diri kita sendiri.
  3. House dibangun dengan kayu; batu; pasir; dan lain-lain, sementara home dibangun dengan cinta.
  4. House memberikan tempat berlindung, sementara home memberikan kehangatan.
  5. House adalah sesuatu yang dicari; dikejar oleh orang, sementara home adalah sesuatu yang dirindukan.

Anda akan dipandang sebagai orang sukses jika Anda sudah memiliki rumah. Semakin banyak rumah yang Anda miliki, semakin tinggi tingkat kesuksesan Anda. Namun, bagaimana perasaan Anda tinggal di dalam bangunan rumah itulah yang menentukan apakah Anda sudah memiliki home atau belum.

Ada orang yang memiliki rumah, namun merasa tidak nyaman, gelisah saat berada di dalam rumahnya. Fisiknya ada di dalam rumah, namun pikiran dan jiwanya berada jauh di luar rumah. Sebaliknya, ada pula orang yang belum “memiliki” rumah, namun merasakan kehangatan saat berkumpul bersama keluarganya.

Kita bisa menyuruh orang lain mendirikan bangunan rumah kita, namun kita sendirilah yang harus mengisinya dengan cinta. Sebab, hanya dengan cintalah kita bisa menjadikan rumah kita laksana surga di dunia. Baiti jannati. Rumahku adalah surga bagiku.

Rumah atau tempat asal adalah sesuatu yang dirindukan oleh manusia. Tradisi mudik di setiap hari raya merupakan wujud dari kerinduan akan tempat asal, tempat kita dulu memperoleh kehangatan dari orang-orang yang kita cintai. Ini adalah fitrah manusia.

Pada hakikatnya manusia selalu merindukan asal-usulnya. Dalam tataran spiritual, kerinduan pada Tuhan merupakan wujud dari fitrah ini. Manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Surga merupakan rumah pertama manusia yang selalu dirindukan oleh manusia.

Ada 3A yang diperlukan untuk mengubah house menjadi home, yakni attention, appreciation, dan affection. Jika ketiganya hadir di dalam rumah, kita akan merasakan rumah laksana surga di dunia. Sebaliknya, absennya salah satu atau ketiganya akan menjadikan rumah kita laksana neraka.

Di dalam rumah harus ada perhatian (attention) dari sesama penghuninya. Seorang anak yang pulang ke rumah pasti akan mencari ibunya untuk mendapatkan perhatian tersebut. Begitu pula seorang suami yang pulang ke rumah pasti mencari istrinya, baru kemudian anak-anaknya. Jika seseorang tidak mendapatkan perhatian di rumah, dia akan mencarinya di luar rumah.

Kita juga harus membiasakan saling memberikan pujian (appreciation) di antara sesama penghuni rumah. Pujian yang tulus akan menjadikan kita termotivasi untuk mengeluarkan energi-energi positif yang membangun keakraban di antara sesama penghuni rumah. Apabila sebuah rumah kering dengan pujian, jangan salahkan saat penghuninya merasa lebih dekat dengan orang-orang lain di luar rumahnya yang memberikan pujian kepadanya.

Yang terakhir adalah kasih sayang (affection) di antara sesama penghuni rumah. Tanpa kasih sayang, sebuah bangunan rumah yang sangat megah sekali pun akan terasa gersang dan membosankan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *