Janji

“Berjanji itu mudah, yang susah adalah menepatinya. Kesuksesan seseorang adalah ketika dia mampu menepati janjinya, dan dengan janjinya itu ia membuat orang lain bahagia. Hidup kita ini adalah keterkaitan dari janji ke janji. Bahkan sebuah hubungan yang baik selalu berdasarkan pada 3 hal, yiatu: promise making, promise keeping, dan promise managing (membuat janji, menepati janji, dan mengelola janji).”

Demikian yang diungkapkan oleh Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirer Indonesia di awal talkshow Smart Happiness yang berjudul “Janji” pada tanggal 28 Maret 2014 di Smart FM Network.

Motivator kebahagiaan dan Managing Director ILM ini mengungkapkan “Ada dua alasan mengapa orang berjanji yaitu untuk memberikan sesuatu (Giving) dan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar (Getting). Namun kebanyakan dari kita  berjanji yaitu mendapatkan sesuatu bukan memberikan sesuatu. Tetapi yang membuat kita sukses yaitu lebih banyak berjanji dengan alasan untuk memberikan sesuatu bukan untuk mendapatkan sesuatu. Rumus janji yitu Seriousness + Intention + Relationship. Ada 3 dimensi janji yaitu : Pertama Seriousness Dilihat dari yang nampak (terlihat). Dengan demikian  yang dikatakan menjadi penting (masuk akal atau tidak) dan juga cara menyampaikannya. Kedua yaitu Intention, ini dijadikan ukuran terhadap apa yang terlihat dari Seriousness dan ketika orang bisa menemukan adanya Korelasi antara Seriousness dengan Intention maka orang tersebut bisa mempercayai janjinya. Ketiga yaitu Relationship, diterima atau tidaknya janji kita ditentukan oleh hubungan kita terhadap orang yang kita janjikan. Dasar dari relationship adalah Rekening Emosi dan dasar dari rekening emosi dapat dilihat dari Track Record.”

Di akhir talkshow, Penulis buku best seller “The 7 Laws of Happiness”  yang juga akan menyelenggarakan Public Workshop “Coaching with Happiness” pada tanggal 14 Mei 2014 ini menambahkan “Tidak ada lebih indah kecuali menepati janji dan tidak ada yang lebih buruk kecuali melanggar janji. Orang – orang yang melanggar janji ialah yang hanya memikirkan  apa yang akan didapatkan bukan untuk yang diberikan. Untuk itu jangan pernah berjanji melebihi kemampuan kita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *