Mungkinkah?

Ketika kita menginginkan sesuatu, ketika kita punya mimpi, punya cita-cita, selalu muncul pertanyaan, “Mungkinkah?” Sebagai manusia, kita memang selalu berbicara tentang ‘kemungkinan’ karena kita tidak mungkin berbicara tentang ‘kepastian’.

Ada kalimat yang menyatakan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang pasti. Seolah-olah itu merupakan kabar buruk. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, segala sesuatu yang tidak pasti itu berarti mungkin.

Hanya dengan memindahkan sudut pandang saja, kita bisa berubah dari orang yang pesimistis (melihat segala sesuatu sebagai ketidakpastian), menjadi orang yang optimistis (melihat segala sesuatu sebagai kemungkinan). Dalam kemungkinan terdapat harapan, optimisme, dan kebahagiaan.

Memang banyak orang yang mencari kepastian. Padahal, kepastian adalah area Tuhan. Area manusia adalah kemungkinan. Tugas kita adalah memperbesar area kemungkinan. Ketika kita mengatakan sesuatu itu pasti, maka kita sudah masuk ke area Tuhan.

Jika diajukan pertanyaan, mana yang lebih menarik, ‘pasti’ atau ‘mungkin’? Sesuatu yang ‘pasti’ mungkin enak. Tapi, yang lebih menarik adalah ‘mungkin’. Kalau semua itu ‘pasti’, maka tidak akan ada effort, kita tidak akan berusaha untuk menjadi lebih baik daripada kita yang sekarang.

Kepastian akan membuat kita menganggap remeh segala sesuatu dan akhirnya membuat kita berkurang bersyukur. Itulah mengapa Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang tidak memberikan kepastian kepada manusia.

Kalau manusia diberikan kemungkinan, maka akan ada dua hal yang terjadi. Yang pertama, akan muncul effort, manusia akan meningkatkan kemampuannya, menjadi lebih pintar dan lebih kompeten.

Yang kedua, kemungkinan memunculkan harapan. Dengan harapan itu, manusia akan berdoa dan selalu mengingat Tuhannya. Tuhan memberikan kita kemungkinan untuk memperkuat keimanan kita.

Keimanan kita tidak akan meningkat kalau Tuhan memberikan kepastian.

Ketika kita berhadapan dengan kata-kata ‘tidak mungkin’, kita tengah berada di sebuah persimpangan, apakah kita beriman atau tidak. Kata-kata ‘tidak mungkin’ itu menghina Tuhan karena pengetahuan kita terbatas.

Orang beriman tidak akan pernah mengatakan ‘tidak mungkin’.

Kemungkinan akan meningkatkan kompetensi kita dan meningkatkan keimanan kita. Nama lain dari ketidakpastian adalah kemungkinan. Perbedaannya, orang pesimistis mengatakan segala sesuatu itu tidak pasti, sedangkan orang optimistis mengatakan segala sesuatu itu mungkin. []

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Mungkinkah?” di Radio Smart FM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *