From Happiness to Cheerfulness

“Pastikan bahwa Tuhan bekerja melalui Anda hari ini”  ~Arvan Pradiansyah

Orang yang bahagia adalah mereka yang merasakan ketenteraman, kedamaian, dan kehidupan yang penuh. Bila diibaratkan, kebahagiaan seperti ketika seseorang tengah berlibur, menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia.

Dalam kebahagiaan seperti ini, kita hanya memiliki secuil energi. Tapi dalam keceriaan  terdapat energi yang meletup-letup, antusiasme yang besar, yang berbeda daripada kebahagiaan. Itu perbedaan antara kebahagiaan dan keceriaan.

Dalam hidup, kita banyak berjumpa dengan kesulitan, kesusahan, keterhimpitan, dan kesedihan. Tapi hidup adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan kepada kita. Oleh karena itu, marilah kita rayakan hidup ini dengan keceriaan.

Kesulitan sesungguhnya merupakan hal yang baik, yang menunjukkan bahwa kita sedang hidup. Kesulitan sebuah indikasi bahwa skill kita belum sampai untuk mengatasi masalah yang tengah kita hadapi. Kesulitan merupakan perintah dari alam semesta agar kita meningkatkan kompetensi kita.

Kesedihan sesungguhnya bukan ketiadaan kebaikan, tetapi kita kita menutup diri dari kebaikan. Orang bersedih karena tidak bisa melihat hari yang baru. Padahal, Tuhan menciptakan malam supaya kita bisa me-recharge diri dan move on.

Ketika kita membuka mata setiap pagi, kita menemukan hadiah dari Tuhan. Dengan melihat hari yang baru dan hadiah-hadiah, kita akan selalu ceria.

Ketika kita sedih, kita menyangka bahwa kebahagiaan itu tidak ada. Padahal, kesedihan bukanlah tiadanya kebahagiaan. Kebahagiaan tetap ada, namun kita tidak mampu melihatnya. Kita tidak mampu melihat sisi-sisi positif dari sebuah kejadian.

Agar selalu ceria, kita harus memiliki hidup yang bertujuan. Kita harus tahu kita datang dari mana, untuk apa kita ada di dunia ini, dan kemana kita akan pergi. Jika kita mengetahui hal itu, kita selalu bisa me-recharge diri kita dengan energi yang tiada habisnya.

Kita harus menyadari bahwa kita berasal dari Tuhan. Di dunia ini kita untuk menjalankan skenario Tuhan untuk menyebarkan kebaikan. Selanjutnya kita akan ke surga, berjumpa dengan Tuhan yang merupakan puncak kebahagiaan.

Untuk me-recharge energi fisik, kita harus makan makanan bergizi, beristirahat dan berolahraga yang cukup. Untuk me-recharge energi emosional, kita harus menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar kita dengan cara selalu memberikan setoran-setoran kebaikan.

Untuk me-recharge energi mental, kita harus banyak membaca buku, berdiskusi, dan mempelajari hal-hal baru. Untuk me-recharge spiritual, kita harus sadar bahwa kita di dunia ini untuk menjalankan misi dan skenario Tuhan.

Kita adalah kaki tangan Tuhan untuk menyebarkan kebaikan kepada sesama. Dasar dari happiness adalah peacefulness, dan itu bisa kita rasakan jika melakukan hal-hal baik yang diperintahkan Tuhan.

Happiness yang paling tinggi adalah gabunga antara peacefulness dan cheerfulness. Dengan keceriaan, kita memiliki energi yang besar untuk menyebarkan kebaikan. []

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “From Happiness to Cheerfulness” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness

One comment

  1. Srimulyaningsih

    Kata2 pak arvan pradiansyah bikin saya sadar…jgn kelamaan terkungkung dalam kesedihan..hrs bisa bangkit dan melihat ke depan dengan penuh optimis untuk merealisasikan cita2 hidup..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *