Happiness for Leaders

Peran seorang Leader di perusahaan sebenarnya bukan hanya menciptakan taktik dan strategi bisnis. Leader yang hanya menciptakan taktik dan strategi adalah leader yang biasa. Melampaui itu semua, untuk menjadi Leader yang luar biasa, seorang Leader harus bisa menciptakan Happiness.

Itulah tugas seorang Leader yang hakiki, yakni menciptakan kebahagiaan dalam diri setiap bawahannya. Sebab, hanya dengan kebahagiaan saja, potensi terbaik dari setiap orang akan keluar, berkembang, dan membuahkan hasil.

Saat menghadapi situasi yang penuh dengan ketidakpastian, orang-orang cenderung merasa takut. Di sinilah peran seorang Leader dibutuhkan untuk menghapus rasa takut tersebut. Rasa takut adalah sumber ketidakbahagiaan, dan ketika rasa itu menyelimuti seseorang, maka mustahil baginya untuk bisa mengeluarkan potensi terbaiknya.

Seorang Leader harus menyadari bahwa dalam diri setiap orang tersimpan potensi terbaik . Tugas seorang Leader adalah membuka gembok yang menghalangi potensi tersebut untuk keluar. Dan kunci pembuka gembok itu adalah kebahagiaan.

Ada empat level kebahagiaan:

  1. Kebahagiaan yang bersifat fisik

Dalam konteks perusahaan, kebahagiaan yang bersifat fisik berbentuk gaji, tunjangan, dan fasilitas lainnya yang dirasakan oleh karyawan. Sayangnya kebahagiaan seperti ini bersifat sementara dan cepat menghilang.

  1. Kebahagiaan yang bersifat sosial emosional

Kebahagiaan level ini dirasakan oleh karyawan dalam bentuk pertemanan yang baik di antara mereka, termasuk dengan atasan dan bawahan.

  1. Kebahagiaan yang bersifat mental

Kebahagiaan yang bersifat mental dirasakan oleh karyawan jika perusahaan memfasilitasi mereka untuk mengembangkan dirinya, misalnya dengan memberikan pelatihan, kesempatan untuk bersekolah, dan lain-lain.

  1. Kebahagiaan yang bersifat spiritual

Ini adalah tipe kebahagiaan tertinggi. Karyawan akan bahagia secara spiritual ketika mereka menemukan makna dalam pekerjaannya. Bekerja bukan semata-mata untuk mencari nafkah, melainkan untuk membantu dan melayani orang lain.

Ada kesalahpahaman yang berkembang bahwa happiness di tempat kerja adalah sesuatu yang tidak produktif. Kesalahan ini terjadi karena orang-orang menerjemahkan Happiness sebagai kesenangan (pleasure), misalnya berkumpul dengan rekan-rekan kerja sambil membicarakan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan dan tertawa.

Padahal sesungguhnya Happiness itu produktif karena mengeluarkan potensi terbaik dari setiap karyawan. Dengan kata lain, ujung dari Happiness adalah produktivitas, achievement, dan accomplishment. Tidak ada kebahagiaan tanpa produktivitas, achievement, dan accomplishment.

Martin Seligman, bapak Psikilogi Positif mengeluarkan sebuah formula untuk mengukur kebahagiaan yang disingkat dengan PERMA (Positive emotion, Engangement, Relationship, Meaning, Achievement/Accomplishment).

Positive emotion (emosi positif) adalah perasaan gembira, optimis, percaya diri. Engagement adalah keterlibatan kita dalam pekerjaan; apakah badan, pikiran, dan jiwa kita hadir dalam melakukan sebuah pekerjaan.

Relationship adalah hubungan yang tercipta di antara karyawan. Meaning adalah pemaknaan karyawan terhadap pekerjaannya. Yang terakhir, Achievement/Accomplishment adalah hasil, pencapaian yang diraih oleh setiap karyawan.

Untuk mengukur tingkat kebahagiaan di tempat kerja, kita bisa menggunakan formula PERMA tersebut dan membuat skala, misalnya 1 sampai 5.

Seorang Leader bisa mengeluarkan potensi terbaik dari setiap karyawan melalui coaching. Salah satu kunci dalam coaching tersebut adalah memberikan pujian. Seorang Leader harus mampu melihat keindahan yang dimiliki oleh setiap karyawan. Tanpa kemampuan tersebut, mustahil bagi Leader untuk bisa memuji bawahannya.

Kesalahan yang banyak dilakukan oleh Leader adalah memberikan pujian hanya ketika bawahannya menunjukkan prestasi yang besar. Padahal, untuk mencapai prestasi yang besar, dibutuhkan energi yang besar. Dan energi tersebut hanya ada jika karyawan tersebut bahagia. Dengan kata lain, seorang Leader harus menyuntikkan energi tersebut kepada bawahannya, misalnya dalam bentuk pujian, yang akan membuatnya bahagia.

Ini bukan berarti seorang Leader tak boleh marah. Marah tentu saja tetap berguna sebagai tool untuk membangunkan, menyadarkan bawahan yang terlena dalam comfort zone-nya. Tugas seorang Leader adalah mengeluarkan bawahannya dari comfort zone, dan membawanya ke dalam happiness zone. Untuk itu, marah kadang diperlukan.

Seorang Leader yang baik harus memiliki dua karakter sekaligus: demanding (menuntut) dan care (peduli). Saat memainkan peran demanding-lah, seorang Leader diperbolehkan untuk marah. Namun, di sisi lain, seoarang Leader juga harus peduli dengan bawahannya.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *