How to Love

“Spread love everywhere you go. Let no one come to you without leaving happier.” -Mother Teresa

Akhir-akhir ini beragam peristiwa memilukan terjadi di tanah air, seperti kasus Yuyun di Bengkulu, pembunuhan dosen oleh mahasiswa di Medan, pembunuhan mahasiswi di Yogyakarta oleh petugas kebersihan, dan sebagainya. Semua itu dilakukan oleh anak-anak Indonesia yang sedianya menjadi para pemimpin di masa depan.

Jika ditarik benang merahnya, beragam peristiwa tersebut berakar pada satu masalah: hilangnya rasa kasih (compassion) dari dalam diri kita. Padahal, alasana keberadaan kita di dunia ini hanya satu: kasih. Kita lahir dari kasih Tuhan melalui kasih kedua orang tua kita. Kasih adalah ajaran tunggal dan sentral dalam setiap agama.

Maka, tugas kita di dunia ini adalah meneruskan kasih Tuhan dengan cara mengasihi sesama makhluknya. Semua orang membutuhkan kasih, tapi sayangnya tidak semua orang bersedia memberikan kasih. Ini terjadi karena kita masih berpikir “di-“, bukan “me-“. Kita berpikir bahwa kita butuh “di-kasihi”, tetapi kita tidak pernah berpikir bahwa kita juga butuh untuk “me-ngasihi”.

Padahal, jika kita semua berpikir untuk mengasihi, maka akan ada orang-orang yang dikasihi. Sebaliknya, jika semua orang berpikir untuk dikasihi, maka siapa yang akan mengasihi?

Kasih adalah salah satu rahasia kebahagiaan yang tertulis dalam buku “The 7 Laws of Happiness”. Dalam buku tersebut, kasih didefinisikan sebagai “melihat orang lain sebagai bagian dari diri kita.”

Jika kita melihat orang lain sebagai bagian dari diri kita, maka secara otomatis rasa kasih itu akan muncul. Sebaliknya, jika kita melihat orang lain bukan sebagai bagian dari diri kita, rasa kasih akan hilang dari diri kita. Orang yang melihat orang lain bukan bagian dari dirinya memunculkan konsep lain: ingroup dan outgroup. Konsep “kita” dan “mereka”.

Untuk menumbuhkan rasa kasih kepada orang lain, kita harus pandai melihat persamaan, bukan perbedaan. Bahwa semua manusia itu pada hakikatnya sama, berasal dari sumber yang sama, dan akan kembali kepada sumber yang sama tersebut. Inilah pemahaman spiritual tentang manusia.

Untuk menguji tingkat kasih dalam diri kita, lihatlah apa yang kita rasakan saat melihat kesulitan orang lain. Saat kita tidak terusik melihat kesulitan orang lain, maka rasa kasih kita dipertanyakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *