Kemerdekaan dalam Perspektif Happiness

Dalam perspektif Happiness, kemerdekaan adalah puncak kebahagian, seperti yang termaktun dalam Pembukaan UUD 1945 dinyatakan bahwa pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia.

Kebahagiaan adalah ketika berpadu padannya skenario kita dengan skenario Tuhan. Ketika kita hanya menjalankan skenario kita saja, itu baru disebut kesuksesan. Sementara kebahagiaan adalah ketika kita menjalankan skenario kita beriringan dengan skenario Tuhan.

Orang yang bahagia adalah orang yang bahagia dalam setiap situasi. Situasi sulit adalah ujian bagi seseorang, apakah dia orang yang bahagia atau bukan. Orang yang merdeka akan berbahagia selama dia bisa memanfaatkan kemerdekaan itu untuk kebaikan.

Ketika seseorang keluar dari jalur kebaikan dalam kemerdekaan, dia akan mendapatkan tamparan yang keras oleh hukum alam. Kemerdekaan itu adalah kebebasan dalam melakukan kebaikan.

Kita ini lahir sebagai manusia yang merdeka. Oleh karena itu, kemerdekaan adalah hak setiap manusia, hak segala bangsa. Manusia yang merdeka adalah manusia yang mampu menjadi dirinya sendiri.

Tuhan membekali kita dengan potensi-potensi. Tugas kita adalah mengolah potensi tersebut menjadi kinerja. Orang yang merdeka terus bertumbuh dan mencapai potensi terbaiknya.

Tuhan mengirim kita semua ke dunia dengan maksud tertentu. Tapi Tuhan tidak berkomunikasi langsung dengan diri kita. Tugas kita adalah menemukan maksud Tuhan itu pada tanda-tanda yang ada di alam. Alam yang paling menakjubkan adalah diri kita

Ketika seseorang tidak mampu mencapai potensi terbaiknya, dia sesungguhnya tidak merdeka. Orang yang tidak mencapai potensi terbaiknya karena terkungkung oleh limiting beliefs.

Limiting beliefs ini membatasi ruang gerak seseorang dalam mencapai potensi terbaiknya. Orang yang terkungkung limiting beliefs, secara fisik mungkin merdeka, tetapi mentalnya masih terjajah.

Dalam diri anak kecil tidak ada mental block atau limiting beliefs. Bagi anak kecil, semua itu mungkin. Orang dewasalah yang sedikit demi sedikit menanamkan mental block pada diri anak kecil.

Kemerdekaan adalah kebebasan melakukan apa pun “yang baik”. Merdeka itu independence. Lawannya adalah dependence, tergantung pada sesuatu di luar Tuhan

Rasa takut, khawatir, cemas, padahal apa yang akan kita lakukan adalah benar, berarti kita belum merdeka. Orang yang belum bisa mengalahkan kekhawatiran sesungguhnya belum merdeka.

Cara untuk mengalahkan kekhawatiran adalah melakukan sesuatu, dan berhentilah khawatir. Jika tidak bisa melakukan sesuatu, berserahlah, dan berhentilah khawatir.

Ada 3 tahap dalam hubungan antar-manusia: dependen, independen, dan interdependen. Hubungan yang terindah justru ada pada interdependensi, saling tergantung.

Paradigma dependensi adalah “Anda”. Anda yang menentukan hidup saya.

Paradigma independensi adalah “Saya”. Saya yang menentukan hidup saya sendiri.

Paradigma interdependensi adalah “Kita”, ketika dua orang independen berkolaborasi dan bersinergi. []

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Kemerdekaan dalam Perspektif Happiness” bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional di bidang Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *