Apakah Bahagia Itu Sulit?

Ketika seseorang diajukan pertanyaan, apa yang bisa membuatnya bahagia, maka bisa jadi jawabannya akan sangat panjang. Dia akan bahagia apabila memiliki penghasilan yang besar, rumah dan kendaraan sendiri, pasangan dan anak-anak yang menyenangkan, atasan yang tidak menuntut, bawahan yang selalu bekerja sama, dan sebagainya.

Padahal, semakin panjang daftar tersebut, semakin sulit dia akan merasa bahagia. Untuk bahagia, seseorang cukup hanya dengan bisa bernapas dengan lega, serta memiliki sandang, papan, dan pangan yang cukup. Tidak lebih.

Seseorang yang tidak mampu bahagia di saat susah, maka di saat senang pun dia tidak akan bahagia. Happiness + Money = More Happiness. Unhappiness + Money = Unhappiness. Jika dasarnya seseorang tidak bahagia, maka sebesar apa pun karunia yang diberikan Tuhan kepadanya, itu tidak akan membuatnya bahagia.

Ada 4 level kebahagiaan:

  1. Bahagia di level fisik. Ini adalah tingkat terendah dari kebahagiaan. Seseorang akan bahagia ketika kebutuhan fisiknya terpenuhi. Tapi itu saja ternyata tidak cukup.
  2. Bahagia di level sosial emosional. Ini adalah tingkatan kedua dari kebahagiaan. Seseorang akan merasa bahagia jika memiliki relasi sosial yang baik, keluarga yang harmonis, teman-teman yang saling mendukung, dan sebagainya.
  3. Bahagia di level mental. Ternyata kebahagiaan di level fisik dan sosial emosional saja belum cukup. Ada kebahagiaan yang lebih tinggi lagi, yakni di level mental. Kebahagiaan ini dirasakan seseorang ketika dirinya bertumbuh, menjadi lebih matang dan dewasa, dan sebagainya.
  4. Bahagia di level spiritual. Inilah letak kebahagiaan yang hakiki, yakni ketika seseorang merasa hidupnya bermakna. Dia mengetahui dan menjalankan peran yang diberikan Tuhan kepadanya di dunia.

Lantas, apa yang membuat seseorang tidak bahagia? Jawabannya adalah karena banyaknya syarat yang dia berikan sendiri untuk bahagia. Celakanya lagi, ada syarat-syarat yang mustahil dipenuhi. Paling tidak ada 4 syarat yang mustahil tersebut:

  1. Seseorang akan bahagia jika semua keinginannya tercapai. Ini adalah syarat yang mustahil. Tidak mungkin semua keinginan seseorang akan tercapai dalam hidup ini. Bahkan, jika semua keinginan manusia tercapai, maka dunia akan menjadi kacau. Keindahan hidup ini justru terjadi ketika ada keinginan kita yang tidak tercapai.
  2. Seseorang akan bahagia jika semua orang melakukan apa yang dia inginkan. Ini juga hal yang mustahil. Selalu akan ada orang yang melakukan hal yang tidak kita inginkan dalam hidup ini. Di sinilah justru terletak warna-warni dinamika kehidupan dunia.
  3. Seseorang akan bahagia jika tidak punya masalah. Bagaimana mungkin orang hidup di dunia tanpa masalah? Bukankah masalah itu lah yang membuat kita hidup. Dengan masalahlah kita menjadi tumbuh dan berkembang, menjadi pribadi yang semakin baik daripada sebelumnya.
  4. Seseorang akan bahagia jika bisa memiliki apa yang ada padanya saat ini untuk selama-lamanya. Dunia ini fana, begitu pula dengan isinya. Apa yang kita miliki hari ini pasti akan pergi meninggalkan kita. Apa yang kita miliki hakikatnya adalah hak guna pakai. Segala sesuatu adalah milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Apakah Bahagia Itu Sulit?” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *