Sekolah Harus Happy: Belajar dari Finlandia

Mengapa kita harus belajar dari Finlandia dalam bidang pendidikan, mengapa bukan dari negara lain? Finlandia adalah negara yang unik. Berdasarkan World Happiness Report beberapa tahun terakhir, Finlandia selalu bertengger di puncak negara-negara terbahagia sedunia.

Selain itu, sejak 2001 silam, Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) menyelenggarakan Programme for International Student Assessment (PISA). PISA mengevaluasi performa akademis siswa sekolah yang berusia 15 tahun dari seluruh dunia dalam rentang tiga tahun sekali.

Hasilnya, lagi-lagi Finlandia selalu menempati urutan teratas. Ini tentu bukan sebuah kebetulan. Pasti ada sesuatu di balik keberhasilan Finlandia menjadi negara terbahagia sedunia sekaligus negara dengan sistem pendidikan terbaik sedunia.

Ternyata, kata kuncinya terletak pada titik berat pendidikan. Jika di mayoritas negara lain, titik berat pendidikan terletak pada achievement (prestasi), maka pendidikan di Finlandia menitikberatkan happiness (kebahagiaan).

Dalam sistem pendidikan yang menitikberatkan achievement, siswa dipacu untuk berprestasi. Ini pulalah yang terjadi dengan sistem pendidikan kita. Yang menarik, sistem pendidikan Finlandia yang mementingkan happiness justru membuahkan achievement yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain.

Setiap belajar 45 menit, siswa di sekolah-sekolah Finlandia beristirahat 15 menit. Uniknya, dalam 15 menit istirahat, para siswa dan guru harus benar-benar terbebas dari obrolan seputar pelajaran.

Siswa dan guru sama sekali tidak membicarakan masalah pelajaran dalam sepertempat jam istirahat mereka. Ketika masuk ke 45 menit jam pelajaran berikutnya, siswa dan guru benar-benar dalam keadaan yang segar.

Guru-guru di mayoritas negara memanfaatkan waktu libur untuk mengembangkan diri. Sementara guru-guru di Finlandia memanfaatkan waktu libur mereka sepenuhnya untuk berlibur.

Siswa di Finlandia juga tidak pernah dibebani dengan pekerjaan rumah. Dengan demikian, di rumah mereka bisa mengekspresikan diri dengan hal lain di luar pelajaran di sekolah.

Siswa-siswa di Finlandia juga biasa menghirup udara segar di ruangan kelas. Selama pelajaran berlangsung, jendela-jendela kelas dibiarkan terbuka agar suplai oksigen melimpah sebagai nutrisi bagi otak.

Keunikan lainnya, wali kelas untuk siswa di Finlandia jarang diganti. Selama beberapa tahun, satu orang wali kelas hanya menangani satu kelas yang sama, sehingga muncul kedekatan antara siswa dan wali kelas.

Wali kelas juga bisa mengenal karakter setiap siswa dengan baik. Setiap pagi, sebelum masuk ke dalam kelas, wali kelas berdiri di depan kelas dan menyapa setap siswa dengan nama panggilan mereka.

Guru di Finlandia adalah profesi terhormat. Orang berlomba-lomba untuk menjadi guru. Menjadi guru adalah dambaan banyak orang di Finlandia karena guru adalah profesi yang membahagiakan buat mereka.

Dalam menangani siswa yang bermasalah juga unik. Siswa yang bermasalah akan dipanggil dan ditanya tentang permasalahan mereka. Mengapa mereka melakukan sesuatu yang, katakanlah, tidak baik.

Percakapan ini akan berujung pada kesadaran yang muncul dari dalam diri siswa yang bermasalah. Dengan demikian, siswa itu sendirilah yang menyelesaikan masalahnya, tanpa intervensi dari guru atau institusi sekolah.

Di Finlandia tidak ada pelajaran agama. Mereka hanya diajari etika. Bagaimana cara berperilaku yang baik pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Inilah yang absen dalam sistem pendidikan kita saat ini: character building.

Jika disimpulkan, maka ada 5 unsur kebagahiaan di sekolah-sekolah Finlandia:

  1. Kesejahteraan atau well-being.
  2. Rasa dimiliki.
  3. Kemandirian
  4. Penguasaan
  5. Mentalitas berkelimpahruahan (abundance mentality)

Titik berat pendidikan di Finladia pada kebahagiaan terbukti berhasil mendorong prestasi siswa mereka. []

 

Disarikan dari talkshow Smart Happiness “Sekolah Harus Happy: Belajar dari Finlandia” di Radio SmartFM bersama Arvan Pradiansyah, Motivator Nasional—Leadership & Happiness.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *