Anda Berhasil atau Beruntung?

Arvan Pradiansyah

Penulis Best Seller “The 7 Laws of Happiness” & Narasumber Talkshow “Happiness” di SmartFM Network


 

Untuk menjawab pertanyaan di atas marilah kita mulai dengan mendefinisikan apa itu keberuntungan. Pikirkan 2 kasus berikut. Kasus pertama:  Anda belajar dengan giat dan lulus ujian. Kasus kedua: Anda hanya bermalas-malasan dan tidak mempersiapkan diri, tetapi tanpa disangka-sangka Anda juga lulus ujian.

Dari dua kasus tersebut manakah yang disebut keberuntungan? Saya yakin kita akan mengatakan kasus kedua. Sementara kasus pertama kita sebut dengan keberhasilan.

Untuk sementara ini, kesimpulan di atas bolehlah kita terima. Namun boleh jadi pendapat Anda akan berubah setelah Anda selesai membaca tulisan ini.

Apa definisi kita tentang keberuntungan? Keberuntungan adalah ketika keberhasilan kita lebih disebabkan kekuatan eksternal dibandingkan dengan usaha kita sendiri. Rumus keberuntungan adalah: External Forces > Effort. Sebaliknya orang disebut berhasil bila dalam upaya mencapai apa yang diinginkan: External Forces < Effort.

Dengan dua definisi di atas, bagaimana Anda mendefinisikan diri Anda, apakah Anda termasuk orang yang beruntung atau orang yang berhasil?

Sebelum menjawab pertanyaan ini mari kita lihat terlebih dahulu tiga paradigma mengenai keberuntungan. Ketiga paradigma ini sesungguhnya menggambarkan evolusi pemikiran manusia mengenai keberuntungan itu sendiri.

Paradigma pertama berbunyi: semua terjadi karena keberuntungan. Orang yang menganut paradigma ini percaya bahwa yang membuat sukses bukanlah usaha tetapi keberuntungan. Bukankah ada banyak sekali orang yang yang mendapatkan kekayaan karena terlahir sebagai anak orang kaya? Bukankah banyak orang yang sukses karena mereka cantik, tampan, pandai, terkenal dan termasyhur? Bukankah kepopuleran seringkali membuat orang lupa pada kualitas individu yang sesungguhnya?

Contoh di atas dapat terus kita perpanjang. Intinya adalah semua hal di dunia ini terjadi karena keberuntungan. Paradigma ini tidak sepenuhnya salah, namun mengandung bahaya yang cukup besar. Orang yang percaya pada paradigma ini pasti akan mengurangi  upayanya. Ini pada gilirannya hanya akan memperburuk pencapaian mereka.

Paradigma kedua adalah paradigma yang tidak percaya pada keberuntungan. Penganut paradigma ini percaya bahwa keberuntungan itu berada di tangan mereka sendiri dan bisa diciptakan dengan usaha dan kerja keras. Ini seperti yang diyakini Brian Tracy yang mengatakan: I’ve found that luck is quite predictable. If you want more luck, take more chances. Be more active. Show up more often.

Paradigma kedua percaya bahwa di dunia ini berlaku hukum sebab dan akibat (cause and effect). Mereka yang rajin dan bekerja keras akan beroleh kesuksesan, sebaliknya orang-orang yang malas akan menemui kegagalan. Keberuntungan ada di tangan kita sendiri. Kepercayaan ini tentu saja membuat orang-orang ini berjuang keras untuk mencapai keberhasilan. Tak heran kalau mereka benar-benar mencapai apa yang mereka perjuangkan.

Pertanyaannya, apakah paradigma kedua ini adalah puncak dari kebijaksanaan? Ternyata tidak. Ada paradigma yang lebih tinggi dan lebih indah lagi daripada ini. Inilah paradigma ketiga yang berbunyi: segala sesuatu di dunia ini terjadi karena keberuntungan.

Mungkin Anda agak terkejut membaca tulisan saya di atas. Benar, saya tidak salah tulis. Paradigma ketiga ini kalimatnya memang sama persis dengan paradigma pertama. Tetapi makna yang dikandung keduanya sungguh berbeda.

Penganut paradigma ketiga ini sesungguhnya percaya pada hukum sebab akibat yang berlangsung di dunia ini. Mereka adalah orang-orang yang berusaha dan bekerja keras untuk mencapai keberhasilan. Tetapi mereka juga percaya bahwa “sebab” tidak berkorelasi langsung dengan “akibat”. Antara sebab dan akibat ada satu kekuatan yang sungguh dahsyat, yang bahkan dapat menggagalkan akibat. Kekuatan inilah yang disebut dengan: ijin Tuhan.

Bukankah segala sesuatu di dunia ini terjadi karena ijin Tuhan? Bukankah banyak upaya yang keras mengalami kegagalan – bukan karena kurangnya usaha – tetapi karena Tuhan memang belum mengijinkannya? Bukankah bahkan tidak ada jaminan bahwa kue yang sedang kita pegang bisa masuk ke dalam mulut kita dengan selamat tanpa ijin Tuhan?

Paradigma ketiga ini akan mengubah pandangan kita terhadap kehidupan. Kita akan terus bekerja keras untuk mencapai keberhasilan, tetapi kita terhindar dari rasa angkuh, sombong dan membanggakan diri. Kita akan sadar bahwa segala sesuatu terjadi karena rahmat Allah. Kita memang harus mengupayakannya sekuat tenaga karena itulah prasayarat yang ditetapkan oleh alam. Namun ketika mencapai keberhasilan kita tidak akan berperilaku seperti Bart Simpson yang dalam doanya di saat makan malam mengatakan, “God, thanks for nothing”. Simpson mengatakan seperti itu karena ia merasa keberhasilan yang ia capai semata-mata adalah hasil kerja keringatnya sendiri.

Paradigma pertama menghasilkan ketidakberdayaan, paradigma kedua menghasilkan sukses, sementara paradigma ketiga menghasilkan kebahagiaan. Lantas bagaimana dengan Anda? Apakah Anda orang yang berhasil, atau orang yang beruntung?

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *